Selasa, 15 Agustus 2017

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik



Oleh Lilih Muflihah

Tabik pun, 

Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan orang lain. Sekarang mau kemana saja mudah ada ojek online bahkan bisa pesan yang mobil juga. Dulu bingung jika ada pakaian yang robek, sekarang ada mesin jahit portable yang lebih mudah digunakan untuk memperbaiki pakaian yang robek. Dulu memasak itu lama karena harus menyiapkan bumbu atau bahan masakan secara manual, sekarang ada alat untuk menggiling bumbu, atau memotong sayuran, dan yang lebih praktis lagi ada bumbu siap masak dengan berbagai jenis masakan.  Dulu harus ke pasar dulu jika mau beli sesuatu, sekarang tinggal gunakan telepon pintar untuk membeli, segala macam barang bahkan jasa tersedia tinggal pilih.


Nah, kemudahan-kemudahan yang seperti itu sangat membantu saya yang bekerja di luar rumah sehingga semua kewajiban dapat terpenuhi. Saya bekerja hanya senin sampai jumat terkadang sabtu tapi hanya sesekali. Biasanya saya ke pasar pada hari minggu tapi ada sedikit masalah yang sebenarnya sepele. Saya lama hidup di rumah orang tua lalu setelah saya dan suami membangun rumah sederhana, kami pindah ke sana. Saya terbiasa ke pasar di sekitar rumah orang tua sehingga setelah pindah, saya merasa asing berbelanja di pasar yang dekat dengan rumah baru. Ini masalah kenyamanan. Saya merasa bingung di mana tempat orang berjualan daging, di mana tempat orang berjualan ayam kampung, di mana lagi saya bisa mendapatkan ikan giling yang bagus, dan sebagainya.  Meskipun saya sudah tahu tempatnya, saya kadang merasa kurang sreg.

Beberapa kali ke pasar, saya hanya membeli sayuran dan bumbu dapur. Pernah membeli ikan tapi saya belum pernah membeli ayam. Saya belum menemukan tempat di mana orang menjual ayam. Maklum kalau ke pasar saya pakai jurus gerak cepat karena membawa serta anak-anak. Kadang seketemunya saja sayuran yang saya beli. Lauknya ya tahu lagi, tempe lagi, telur lagi. Alhamdulillah kesukaan anak-anak adalah telur dan tempe.

Pengen masak ayam tapi ya itu belum ketemu yang pas. Selama ini beli ayam  yang sudah dimasak. Masak iya mau masak ayam harus ke pasar dekat rumah orang tua. Biasanya juga kalau ayam kampung adanya pagi. Haduh repot banget ya saya ini. Alhamdulillah seorang teman SMA saya mempromosikan bisnisnya. Ternyata dia juga menjual ayam kampung. Ayamnya sudah disembelih dan dibersihkan bahkan dia juga menyediakan ayam yang sudah diungkep. Bisa diantar ke rumah pula. Wah, ini namanya pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya langsung menghubungi nomor yang ada di fesbuknya.

Ayam yang sudah diungkep.
Foto oleh Dewi Mutia
Peristiwa transaksi

Dewi, itu nama teman saya. Kami berteman sejak SMA meskipun demikian nyaris kami tak pernah bertemu. Keinginan saya untuk masak ayam menjadi perantara pertemuan kami. Saya meminta ayamnya di antar ke tempat kerja. Sayangnya tak sempat berfoto, maklum kami bertransaksi di saat suasana pulang kerja yang sudah lelah. Kalau pulang kerja yang ada di otak saya hanya bertemu anak-anak. Hehe… sampai di rumah saya langsung berkutat dengan urusan berbenah rumah yang sering belum sempat saya benahi ketika pagi hari. Bagaimana kabar si ayam? Si ayam yang dinanti sejak lama langsung masuk kulkas. Nah, ini yang membuat saya senang, saya tidak perlu lagi cemas dengan ayam yang baru saya beli. Ayam masih dalam keadaan segar, sudah dalam keadaan bersih, dan dalam wadah kemasan.
Praktis, bisa langsung masuk kukas.
Foto oleh Dewi Mutia
Memilih ayam yang baik

Untuk ayam dan daging, ada hal yang harus dipenuhi. Sebagai orang Islam, saya harus yakin dengan kehalalannya. Kalau di pasar, biasanya ayam kampung langsung disembelih di depan pembeli. Nah kalo beli online? Saya yakin dengan kapasitas pengetahuan agama mba Dewi, tentu ayam kampung yang dijualnya jelas halal. Ayam kampung yang dijual, langsung diambil dari perternak ayam di Metro. Kemudian disembelih dengan syariat Islam dan tidak menggunakan pengawet karena ayam yang disembelih sesuai dengan pesanan. Oia ada tips dari Mba Dewi tentang memilih ayam yang baik, selain harus disembelih dengan syariat Islam, ayam yang baik itu ketika disentuh tidak lembek dan warnanya masih terlihat putih.
Ayam kampung yang halal dan baik.
Foto oleh Dewi Mutia
Senangnya bisa masak ayam kampung tanpa repot dan cemas. Usaha penjualan ayam kampung yang dimulai sejak bulan mei 2017 ini ternyata sudah banyak pembelinya, mulai dari tetangga, teman-teman kantor, sampai teman-teman di social media. Nah jika ada yang butuh ayam kampung tapi gak mau repot dan ribet, hubungi saja mba Dewi (085768111080)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Beberapa hal yang perlu dketahui untuk Mencegah Stunting

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun, Pagi yang indah di hari Selasa, tanggal 12 September 2017, Direktorat Kemitraan Komunikasi K...