Sabtu, 26 Agustus 2017

Antara Bandar Lampung dan Kalirejo


Ibu saya merupakan anak pertama dari 9 bersaudara. Sebenarnya anak nenek ada 13 tapi yang hidup hanya 9 orang. Untuk mempererat tali silaturahim, kami mengadakan arisan keluarga yang anggotanya adalah adik-beradik ibu saya beserta anak-anak mereka. Kami memang keluarga besar. Karena nenek dan kakek sudah tiada, kami memang jarang berkumpul. Setahun sekali bertemu jadilah, untuk melepas rasa rindu, berbagi cerita dan pengalaman. Apalagi keluarga besar kami tersebar di berbagai daerah baik itu di Lampung maupun di luar Lampung.

Idul fitri tahun ini ibu saya yang menjadi tuan rumah arisan namun saya tidak akan bercerita tentang kisah arisan di Bandar Lampung. Saya akan berbagi kisah arisan tahun yang lalu. Tahun lalu, sepupu saya yang di Kalirejo, Lampung Tengah yang menjadi tuan rumah.

Perjalanan dimulai dari Bandar Lampung, dari rumah ibu saya. Kami menyewa mobil. Sebenarnya, bukan kali pertama kami ke sana. Beberapa kali kami pernah ke sana. Itu adalah perjalanan terjauh pertama bagi anak kedua saya. Perjalanan ke sana memakan waktu kurang lebih dua jam. Saat itu anak saya belum genap setahun dan kakaknya hanya berjarak setahun setengah lebih tua dari adiknya. Rentang usia  yang dekat antara kakak dan adik memang sedikit merepotkan. Butuh kerjasama antara ayah dan ibu. Tentu saja saya juga harus mempersiapkan segala keperluan kakak beradik itu dengan baik agar perjalanan menjadi nyaman. Oia saya ingat cerita dosen saya, jadi saat mereka dalam perjalanan, bayi yang bersama mereka menangis keras. Ternyata bukan karena lapar atau haus tapi si bayi merasa gerah. Nah saya ingat akan hal itu, saya pakaikan pakaian yang menyerap keringat dan tidak tebal pada anak-anak. Selain itu ada beberapa perlengkapan yang memang harus dibawa saat dalam perjalanan.


Perlengkapan yang harus dibawa saat berpergian dengan bayi dan batita:
  • Untuk si adik, ASI perah beku dalam botol yang ditaruh dalam wadah yang bisa menahan dingin.
  • Untuk si kakak, susu kotak UHT
  • Termos berisi air panas 
  • Gelas plastik untuk merendam botol ASI perah
  • Popok, tisu basah,  dan losion bayi
  • Tisu kering atau handuk kecil
  • Pakaian ganti
  • Makanan bayi untuk si adik
  • Cemilan untuk si kakak
  • Kantong plastik

Sebelum berangkat kami sudah memutuskan untuk ke Kalirejo lewat Pringsewu. Melewati daerah Kemiling kemudian perbatasan Bandar Lampung dan Pesawaran. Melewati Gedong Tataan dan Gading Rejo. Perjalanan kali itu sungguh saya nikmati, apalagi setelah menikah, saya memang sudah jarang sekali melakukan perjalanan jauh. Saya jadi ingat, dulu saat kecil, saya sering bersama almarhum ayah pergi ke Talang Padang mengendarai motor Vespa. Ke Talang Padang juga melewati jalan ke arah Pringsewu. Motor vespa itu sudah dijual dan sekarang berada di rumah tujuan perjalanan kami.
Tugu Selamat Datang Pringsewu
Sumber https://ridhoisnanto01stmikpringsewu.wordpress.com

Saat masuk wilayah Pringsewu ada tugu selamat datang yang berupa bambu kuning yang melengkung. Pringsewu artinya seribu bambu. Pringsewu merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung, hasil pemekaran dari Kabupaten Lampung Selatan. Melewati Pringsewu mengingatkan saya akan sebuah kenangan. Saya pernah diajak untuk menghadiri sebuah acara kemudian selesai acara, kami dan rombongan lainnya mampir bertemu dengan bupati dan istrinya. Pernyataan saya ini sungguh tidak ada unsur politik, saya hanya kagum dengan istri bupati yang begitu ramahnya mempersilakan kami masuk dan menyuruh kami makan. Dia tidak canggung makan bersama dengan banyak orang dengan duduk di lantai dan menggunakan tangan untuk menyuap, tidak menggunakan sendok maksud saya. Dari sorot matanya dan gerak tubuhnya, dia tampak sederhana, tidak terkesan dia adalah orang penting yang harus kami sanjung.


Tugu at
Sumber: http://mtktik.blogspot.co.id

Perjalanan terus berlanjut. Kami sempat berhenti di pasar Kalirejo karena sedikit lupa dengan arah tujuan. Setelah ingat, kami melanjutkan perjalan. Sebelum sampai tujuan kami disuguhi pemandangan bata-bata bertumpuk di sekitar rumah-rumah penduduk. Di daerah yang kami lewati juga ada kerupuk-kerupuk yang dijemur di depan rumah-rumah penduduk. Kalirejo merupakan salah satu kecamatan di Lampung Tengah yang penduduknya ada yang memproduksi bata, genteng, dan kerupuk, skala rumah tangga.

Kemudian sampailah kami di tempat tujuan. Tempat yang masih sama dengan sedikit perubahan di sekitarnya. Masih sama karena saya masih menjumpai orang yang membuat bata di rumah mereka. Sedikit berbeda karena rumah sepupu sudah direparasi. Sambutan hangat dari sepupu dan suaminya. Kami disuguhi makanan dan minuman. Keluarga besar berkumpul dan arisan dimulai.

Saya memang tidak terlalu akrab dengan sepupu karena jarak yang memisahkan kami sehingga hanya sesekali saja menyapa lewat telepon, hanya sesekali saja berbagi cerita lewat pesan singkat. Namun saat kami bertemu, ada kerinduan yang terobati. Setelah sekian lama tidak berjumpa, memang pertemuanlah yang menjadi hujan setelah kemarau. Sepupuku itu adalah ibu dari tiga orang anak laki-laki. Ketegaran dan kesabarannya sudah teruji saat anaknya yang ketiga harus bolak balik ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan kemoterapi. Ibu yang mana yang tidak sedih jika anaknya sakit namun seorang ibu sangatlah hebat, menyembunyikan keletihan dan kesedihannya di depan semua orang, berjuang tanpa kenal menyerah, apapun dilakukan demi kesembuhan anaknya. Dia secara langsung maupun tidak langsung memotivasi diri saya untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi.

Setelah arisan selesai, kami melanjutkan perjalanan ke rumah sepupu ibu saya yang tempat tinggalnya masih di kecamatan yang sama. Karena masih suasana Idul Fitri, kami menyempatkan diri untuk singgah. Di sana kami disuguhi makanan khas lebaran. Tak ada yang spesial karena sajian lebaran memang umum begitulah adanya. Namun ada satu makanan yang istimewa. Bukan karena jenis makanan yang aneh tapi karena makanan itu dibuat oleh suami sepupu ibu saya. Jika sudah pernah makan tape ketan pasti tahulah bagaimana rasanya. Apa istimewanya? Beberapa tahun terakhir sepupu ibu saya terkena diabetes, puncaknya telapak kakinya harus sedikit diamputasi. Keadaan itu membuat, sepupu ibu tidak bisa lagi beraktifitas dengan normal. Beberapa aktivitas harus dibantu oleh suami dan anak-anaknya. Dan sang suami membuktikan rasa cintanya dengan menggantikan istrinya membuat tape ketan sebagai suguhan bagi para tamu yang datang. Cinta memang tak melulu harus dikatakan. Mereka adalah pasangan suami istri yang sudah berpuluh tahun mengarungi rumah tangga. Kata-kata cinta mungkin tak lagi terasa di hati, tapi pembuktian cinta lewat tingkah laku adalah hal yang begitu menyentuh hati.

Begitulah perjalanan saya dari Bandar Lampung ke Kalirejo. Memang bukanlah perjalanan yang panjang, namun jika kita memaknai setiap langkah perjalanan itu, maka perjalanan itu menjadi kenangan manis yang begitu bermakna. Semoga kelak jika saya melakukan perjalanan lagi, saya bisa mengabadikan lewat foto-foto yang saya ambil sendiri. Tulisan ini adalah Tugas Kelas Ngeblog Seru 2 bersama Naqiyyah Syam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Beberapa hal yang perlu dketahui untuk Mencegah Stunting

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun, Pagi yang indah di hari Selasa, tanggal 12 September 2017, Direktorat Kemitraan Komunikasi K...