Langsung ke konten utama

Kisah Bertemu Buku



Oleh: Lilih Muflihah

Koleksi buku saya tidak banyak, hanya beberapa dan hampir seluruhnya saya beli sendiri. Ada beberapa yang merupakan hadiah. Kalau bicara tentang buku, tidak bisa terlepas dari yang namanya toko buku dan jika sudah berada di toko buku, saya terkadang lupa waktu. Melihat hamparan buku yang begitu banyak seolah saya melihat sungai yang jernih dan saya ingin sekali berenang di sana.

Harapan memang tak selalu sesuai dengan kenyataan. Keinginan untuk membeli buku sering terhambat oleh ketersedian anggaran pembelian buku. Nah, jika saya datang ke toko buku lalu melihat ada buku bagus yang harganya juga bagus, biasanya saya menitipkan harapan di toko buku sambil menabung, jika kunjungan ke toko buku berikutnya uang tabungan masih belum cukup, saya kembali menitipkan harapan itu di toko buku. Dan setelah tabungan cukup, saya segera menjemput harapan yang saya titipkan di toko buku. Ada kepuasan tersendiri jika bisa membeli buku yang diinginkan. Saya juga pernah gagal membeli buku karena bukunya terlalu mahal atau ada buku yang lebih penting untuk saya beli. Jika itu terjadi saya hanya bisa menatap buku itu dikejauhan dan mengucapkan selamat tinggal. Sedih kan?

Bicara tentang buku memang penuh suka dan duka. Tak sedikit buku saya hilang karena dipinjam seseorang tapi tidak dikembalikan. Terkadang ada buku yang edisi terbatas atau buku yang tidak dicetak ulang. Nah, buku yang seperti ini membuat sedih pemiliknya jika ia sampai hilang tak tahu di mana rimbanya. Teman saya pernah berkata "Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku pinjamannya". Ungkapan ini sepertinya memang benar adanya, saya seperti orang bodoh karena sudah meminjamkan buku pada beberapa orang yang dengan berbagai alasan buku-buku itu tak kembali pulang. Mungkin si peminjam lupa tapi mungkin terlalu waras sehingga enggan untuk mengembalikan buku yang dipinjam. Oh tak tahukah bahwa buku itu berharga? Tak tahukah bagaimana saya mendapatkannya? Jika sudah tidak ada mau dicari di mana lagi.


Ada hal yang menarik. Teman saya pernah menginginkan hadiah lamarannya berbentuk buku. Wah, tidak bisa dianggap enteng juga jika buku dijadikan sebagai seserahan. Mari kita menghitung jika rata-rata harga buku Rp.60.000,-, jika buku karya penulis favoritnya berjumlah 25 buku berarti 25 x 60.000 = 1.500.000. Lumayan juga, kan? Tak bisa dianggap enteng jika sang calon menginginkan dihadiahi buku tapi ini adalah ide yang cemerlang. Romantisme buku sudah dimulai sejak lamaran, bayangkan saat rumah tangga itu mulai dibangun lalu hadir anak-anak yang memeriahkan suasana, kemudian rumah tangga itu terus dikokohkan yang juga ditopang dengan kesukaan pada buku. Ah, indah kan?

Saya sebenarnya tidak punya standar khusus dalam memilih buku yang akan dibeli. Tapi memang ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Biasanya saya menetapkan skala prioritas dalam membeli buku tapi beberapa kali pernah membeli buku tanpa pertimbangan, ada uang buku dibeli apalagi jika yang menulis teman sendiri dan dapat diskon pula. Hehe.. Nah, saya ingin sedikit bercerita tentang salah satu buku yang menarik buat saya. Untuk membeli buku ini saya menitipkan harapan di toko buku sampai tiga kali kunjungan. Judulnya 48 Hukum Kekuasaan, buku ini adalah non fiksi, bukan buku ajar bukan pula referensi kuliah tapi lebih kepada buku motivasi. 


Entahlah, saya sudah tertarik sejak pertama melihat judul buku itu ada tulisan Buku Terlaris Dunia. Terlepas dari benar atau tidaknya buku ini itu laris manis di dunia, saya pun membeli buku itu dengan harga yang lumayan fantastis Rp.98.800,- di toko buku di dalam sebuah Mall. Dan saya tidak menyesal telah membelinya.

Di dalam buku itu ternyata ada kutipan-kutipan kisah masa lalu dan cerita fabel. Saya heran mengapa ada cerita fabel yang dikutip untuk memperkuat tulisan-tulisan di buku itu dan belum menemukan jawabannya. Buku itu sedikit berbahaya karena memotivasi orang untuk melakukan trik agar mendapatkan kekuasaan. Kekuasaan tak hanya sekedar dimaknai mendapatkan jabatan tapi juga mendapatkan simpati dan perhatian dari banyak orang. Namun saya juga menemukan banyak kisah yang bisa direnungkan. Misalnya saja dalam buku itu mengutip pepatah Jepang "Tidak ada apapun yang lebih mahal daripada sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma". Jika dipikirkan lebih dalam, pemberian secara cuma-cuma atau gratis memang bisa membuat oknum orang miskin berpindah agama karena sekotak sembako, membuat oknum hakim memutuskan perkara secara serampangan, membuat oknum dokter memberikan obat yang tidak sesuai karena harus menghabiskan stok obatnya sebagai balasan bonus jalan-jalan dari distributor obat, membuat pejabat publik merekayasa anggaran, dan sebagainya.

Itulah sedikit kisahku bertemu buku yang diikutsertakan dalam "Giveaway Kisah Antara Aku dan Buku"



Komentar

  1. Wah bukunya banyak juga mba hehe. Memang membaca itu adalah gerbong pengetahuan yang mengantarkan kita ketitik manapun. Saya berharap semoga tulisan kita sama-sama mendapat reward mba. Salam kenal :)

    BalasHapus
  2. Terimakasih sudah mengikuti GA Kisah Antara Aku dan Buku. Nantikan pengumuman pemenangnya di tanggal 15 Nopember 2016.


    Salam,

    Izzah Annisa

    BalasHapus
  3. senang beli buku,
    sesudah di beli seringkali 'glethak' di lemari dan di pajang,
    agar kelihatan 'keren'
    thank

    BalasHapus
  4. Aku juga suka buku loh, dan suami pernah memberikan buku sebelum menikah xixi...

    BalasHapus
  5. Buatku buku itu kyk obat penghilang stress :). Dr kecil aku udh seneng buku.. Tiap ultah pun kado yg paling aku tunggu slalu saat papa bawa aku k gramedia, dan aku boleh pilih buku berapapun dan apapun yg aku suka .. Itu kado yg paling berharga yg prnh aku dpt.. :). Sampe skr, tiap ultah yg aku minta k suami juga biasanya buku.. Jrg minta yg lain :D.. Apalgi kalo udh msk k toko buku ya mbak, nyium wangi kertas itu kyk terhipnotis ga pengen keluar :D

    BalasHapus
  6. pokoknya, harus rajin-rajin baca biar pengetahuannya tambah

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Pos populer dari blog ini

KUE STIK KEJU

Bahan-bahan:
 4 butir telur
 500 gr tepung ketan
 Garam secukupnya
 1 bungkus kaldu ayam bubuk
 50 gr keju parut
 25 gr margarin
 2 sdm air

Cara membuatnya:
1. Kocok telur hingga mengembang
2. Campurkan tepung ketan, kaldu bubuk, garam, dan keju, aduk rata. Masukkan dalam telur, tambahkan margarin dan air, uleni hingga kalis.
3. Giling adonan lalu potong memanjang sebesar batang korek api
4. Masukkan dalam minyak dingin dan lakukan pada semua adonan. Goreng hingga kekuningan dan matang, angkat kemudian tiriskan.

Kalau di rumah lagi sendirian dan ngerasa bosan, gak ada salahnya main ke dapur, nyoba buat kudapan. Nah stik keju ini enak banget, buatnya juga mudah. Iseng-iseng aja. Tapi hati-hati ya buat yang punya masalah berat badan cz dijamin ketagihan, lagi dan lagi.

Mengenang Kembali Telepon Umum

Perkembangan teknologi saat ini begitu cepat. Dulu, bahkan sangat jarang orang memiliki telepon rumah karena begitu mahal. Di awal munculnya telepon genggam pun, perlu merogoh kantong lebih dalam untuk membelinya. Modelnya kala itu biasa saja tapi sekarang jangan ditanya. Berbagai merk dan model banyak di pasaran. Hari ini beli model baru, tak lama kemudian hadir model yang lebih keren dan canggih.

Ada Kopi, Lomba, dan Keseruan di Lampung Coffee Festival 2016

Setiap hari saya selalu menyuguhkan kopi untuk suami tercinta. Aroma kopi memang tak ada duanya. Kopi di pagi hari menyegarkan tubuh, kopi di siang hari menghilangkan kantuk, kopi di malam hari menghangatkan.