Jumat, 23 September 2016

Ketika ibu memilih bekerja atau tidak

Seorang ibu itu apakah sebaiknya bekerja atau tidak? Nah pembahasan ini tak pernah habisnya. Memang tugas mencari nafkah adalah kewajiban ayah namun tidak jarang seorang ibu juga bekerja karena berbagai alasan. Ada yang memilih bekerja di rumah, ada juga yang di luar rumah.


Eh eh eh, saya pernah dibilang gak takut dosa menelantarkan anak karena bekerja di luar rumah. Dia mengatakan anak saya jiwanya kosong, kurang kasih sayang karena saya bekerja di luar rumah. Ih siapa yang  berani bilang begitu. Ada seorang konsultan parenting yang sok, yang perlu belajar lagi tentang psikologi dan komunikasi. Ingin rasanya saya mengatakan kalau dia itu menjadikan konsultan parenting sebagai kedok menarik perhatian orang masuk ke grupnya untuk ditawari barang dagangannya. Mungkin dia bilang begitu supaya saya penasaran dan beli dagangannya. Menyesal saya membuka percakapan dengan dia. Tetiba menghakimi saya. Ya sudahlah, saya maafkan dia, semoga dia baca tulisan saya ini dan menjadikannya sebagai referensi. Haha..

Oke, tak perlu lama terbawa perasaan. Sebenarnya banyak alasan seorang ibu bekerja di luar rumah,  kalau pendapat saya, selama suami mengizinkan ya gak masalah. Toh tak jarang ibu yang tidak bekerja di luar rumah, tetap bekerja dari rumah atau ikut banyak kegiatan juga di luar rumah, misalnya arisan, ikut kegiatan sosial, ikut perkumpulan di sekolah anak, dan lain-lain.

Tak bijak rasanya jika melihat ibu yang bekerja di luar rumah dengan sebelah mata.   Ibu yang bekerja di luar rumah harus memiliki manajemen waktu yang canggih, kapan waktunya mengurus rumah, kapan waktunya mengurus anak dan suami, kapan harus bekerja. Sering juga menghadapi dilema yang berkaitan dengan anak terutama masalah menitipkan anak. Ibu yang bekerja di luar rumah butuh energi yang lebih besar tapi seperti kata ibu saya, itulah perjuangan.Saya banyak melihat dan belajar dari ibu saya, beliau memilih bekerja di luar rumah tapi  semua pekerjaan rumah bisa diselesaikan, anak-anak dan suaminya juga terurus dengan baik.

Saya tidak anti terhadap ibu yang berada di rumah penuh waktu. Saya pernah punya keinginan untuk berhenti bekerja. Tapi kemudian saya ingat dengan teman kuliah saya, dia pernah mengutarakan keinginannya untuk berhenti kerja. Suaminya malah bertanya balik apakah dia yakin. Dia khawatir jika ibunya anak-anak berhenti kerja, akan merecoki si ayah bekerja. Memang kita perlu berpikir bijak dalam mengambil keputusan. Perlu juga dipikirkan dampak ibu yang berhenti kerja karena ibu yang bekerja di luar terbiasa dengan aktivitas keluar rumah, bertemu banyak orang, dsb. Ibu yang berhenti bekerja harus sudah siap dengan konsekuensinya karena setiap keputusan pasti ada resikonya.

Saya melihat teman-teman saya yang berhenti dari pekerjaanya. Mereka punya keahlian menulis, punya keahlian memasak, punya keahlian berniaga sehingga keahlian itu mereka jadikan modal untuk bekerja, tetap di rumah namun berpenghasilan. Punya penghasilan sendiri itu memang beda rasanya ketimbang minta. Selain itu, ibu yang penuh waktu di rumah juga perlu aktualisasi diri, berkumpul bersama teman, pergi ke luar jalan-jalan, dsb. Kalau di rumah melulu bisa jenuh pastinya. Kurang bersosialisasi juga tidak baik bagi kesehatan jiwa ibu dan perkembangan anak.

Nah, ibu yang bekerja dari rumah bisa juga jadi masalah jika tidak bisa mengatur waktu atau ibu yang tidak bekerja tapi terlalu sering arisan, jalan-jalan, ikut kegiatan sosial, dsb sehingga rumah tak terurus, anak-anak terbengkalai, suami merasa diabaikan. Percuma juga jika tanpa diiringi dengan kesadaran akan kewajiban utama sebagai seorang ibu.

Intinya sih bekerja atau gak bekerja bukan masalah. Yang jadi masalah kalau seorang ibu tidak sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya. Dan yang terpenting atas seizin suami.Oia saya juga pernah menulis tentang Ibu yang baik: bekerja atau tidak, Baca juga ya.

6 komentar:

  1. Saya juga kerja Mb. Dan saya yakin Dari setiap IBU yg be kerja pasti sdh memikirkan setiap konsekwensinya. Kita lah yg tahu dirikita sendiri..

    Semangat, semoga berkah y mb

    BalasHapus
  2. Kalau saya lebih prefer istri lebih baik di rumah mendidik anak sendiri ^_^

    BalasHapus
  3. setiap pilihan selalu ada konsekuensi yang mengiringinya mba, sebuah keniscayaan.
    Tinggal bagaimana kita tetap komitmen dengan pilihan kita sehingga apapun yang orang bilang, tidak akan menggoyahkan langkah kita. Toh, kita yang menjalani hidup kita, bukan mereka ^_^

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...