Rabu, 04 Januari 2012

LEBAI

LEBAI (Bagian 2)

Karya: Lilih Muflihah

Pagi hari Lebai bergegas ke kantor. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Mini, pujaan hatinya. Sarapan pagi yang telah disediakan oleh istrinya, Selfi, tidak ia sentuh bahkan kopi kesukaannya tak sempat ia minum.

“Pah, kok buru-buru banget?” tanya Selfi sedikit heran.

“Aku ada rapat.” Jawabnya singkat tanpa ekspresi kemudian masuk ke dalam mobil dan meminta supirnya untuk melaju dengan kecepatan tinggi.

Di dalam mobil Lebai diam seribu bahasa. Biasanya dia akan berbincang dengan supirnya tentang berita hari ini. Lebai cukup pintar memilih supir. Ismet namanya, seorang mahasiswa di sebuah universitas swasta, selain lihai menyetir mobil, ia juga cerdas, sangat menyenangkan untuk diajak berdiskusi dan sering membantu Lebai mengerjakan tugas kuliah S2-nya.

Sesampainya di kantor, Lebai bergegas masuk. Ternyata Mini sudah duduk di kursi tunggu.

“Yuk masuk.” Ajaknya.

Kantor masih sepi sehingga tak ada yang tahu pertemuan Lebai dan Mini, apalagi pertemuan mereka hanya sepuluh menit. Saat Mini keluar kantor pun belum ada pegawai yang datang. Pertemuan pertama barulah permulaan, mereka membuat janji untuk bertemu lagi.

Pertemuan demi pertemuan membuat mereka semakin akrab. Kenangan masa lalu menjadi cikal berseminya kembali kasih di antara mereka. Selfi mulai menaruh curiga meski tak ada yang tahu pertemuan rahasia Lebai dan Mini karena mereka pintar menyiman rahasia. Konon kabarnya, seorang perempuan memiliki indera yang tidak dimiliki pria, ia bisa merasakan jika pasangannya berselingkuh. Dan sepertinya indera istri Lebai mulai merasakan adanya pengkhianatan.

“Ada yang Papi sembunyikan dari Mami ya? “ tanya Selfi.

“Kamu tahu kan pekerjaanku banyak? Aku harus mengurusi rakyat?” hardik Lebai serta-merta.

“Pi, saya gak peduli kalo Papi mau kawin lagi. Bukan karena saya gak cinta lagi tapi daripada Papi selingkuh lebih baik kita bercerai.” Selfi mulai menumpahkan amarah kecurigaannya.

“Mami jangan sembarangan kalo ngomong.” Lebai memanas tapi kemudian ia kedinginan karena harus tidur di ruang tengah, di kursi panjang di depan televisi. Tanpa selimut, tanpa isteri.

Lebai kembali bermimpi buruk. Dalam mimpi, ia melihat Mini yang begitu cantik. Namun tiba-tiba dari perut Mini, keluarlah seekor ular berwajah manusia. Wajah ular itu tidak tampak jelas sampai akhirnya ia mendekati Lebai. Betapa terkejutnya lebai karena ular itu berubah menjadi sosok Timo.

Kepala Lebai masih pusing karena terbangun tiba-tiba akibat mimpi. Ia tidak terlalu peduli dengan selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Rupanya Selfi tak tega melihat suaminya tidur kedinginan.

***

Seminggu sudah Lebai mengukir kisah cinta lama bersemi kembali bersama Mini. Selfi pun semakin yakin suaminya berselingkuh walaupun belum punya bukti nyata. Karena perasaan curiga begitu kuat, ia meminta Ismet untuk menyelidiki.

“Bu, dua hari ini saya ngikutin Bapak dan beliau sering pergi ke sebuah rumah di daerah dekat rumah orangtua Bapak bersama istrinya Pak Timo.” Lapor Ismet. Meski terkejut, Selfi tak meragukan keakuratan laporan Ismet yang selalu jujur. Selfi memang tak kenal dengan Mini tapi ia tahu banyak tentang cerita masa lalu Lebai

“Ismet. Ibu sangat cinta sama Bapak. Saya gak ingin nama baik Bapak rusak gara-gara masalah ini. Kamu harus bantu saya membuat Bapak sadar dan meninggalkan perempuan itu.” Pinta Selfi berkaca-kaca.

“Ya Bu, saya akan mencari cara untuk itu karena saya juga tidak mau keluarga Bapak dan Ibu hancur, saya berhutang banyak pada keluarga ini.” Ucap Ismet menyanggupi.

“Kamu sudah saya anggap saudara sendiri, bantu saya.” Selfi kembali meminta tapi kali ini tangisnya pecah.

“Bu, maaf, kalo saya boleh kasih saran, sebaiknya Ibu perbanyak berdoa karena Tuhan yang berkuasa atas segalanya. Hanya kepada-Nya kita berserah diri. Hanya Tuhan yang bisa menolong, Bu.” Saran Ismet dengan hati-hati.

Selfi adalah perempuan yang tampak tegar namun sebenarnya dia amat rapuh. Saran Ismet memang sangat tepat. Sementara Ismet terus mencari tahu informasi tentang Mini, Selfi setiap hari memohon petunjuk dari Tuhan, meminta Tuhan untuk menyelesaikan masalah ini.
Ismet berhasil menemukan bukti keterlibatan Mini dalam kasus Korupsi yang dilakukan Timo dalam proyek renovasi kantor walikota. Namun Selfi tidak mungkin menyeret Mini ke dalam penjara karena Lebai akan membela habis-habisan pujaan hatinya itu. Ismet mulai bingung memikirkan cara untuk menolong majikannya.

“Bu, bagaimana kalo ajak bapak ke tempat-tempat kenangan cinta Ibu dan bapak. Siapa tahu akan mengembalikan lagi cinta bapak.”

“Saya beberapa kali memintaya tapi Bapak selalu menolak dengan berbagai alasan.” Keluh Selfi. Guratan kecemasan sangat telihat dari wajahnya.

“Bu, Tuhan tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Saya yakin Tuhan akan menunjukkan cara untuk menyelesaikan ini semua.” Ismet menguatkan Selfi.

***

Lebai terlelap di samping Selfi. Sementara Selfi tetap terjaga, berdoa pada Tuhan. Selesai berdoa, Selfi menaruh sebuah amplop besar yang tertutup di samping suaminya. Kemudian ia pergi meninggalkan rumah dengan diantar Ismet menuju suatu tempat.

Pagi harinya Lebai terkejut karena istrinya tak ada di rumah, apalagi setelah membuka amplop yang ada di tempat tidur. Di dalam amplop itu ada tiga lembar foto. Yang pertama memuat gambar pernikahan Lebai dan istrinya, yang kedua gambar pernikahan Timo dan Mini, yang ketiga gambar pernikahan Mini bersama seorang laki-laki yang tidak ia kenal.

Lebai terbakar api cemburu. Amarahnya menjadi. Ia tidak menyangka Mini menghianatinya untuk yang kedua kali. Ini adalah jawaban kegelisahannya dua malam yang lalu. Ia bermimpi bertemu sosok yang tak terlihat wajahnya, menghantamnya dengan batu. Kemudian ia dikerumuni orang yang berteriak agar ia turun dari jabatannya sebagai walikota. Darah yang terus mengalir dari kepalanya tak menyurutkan orang-orang itu terus memakinya. Tiba-tiba beberapa orang memecah kerumunan itu, Mini bersama seorang laki-laki menari-nari di sampingnya sambil tertawa.

Lebai kemudian ingat pada Selfi. Istrinya itu sangat cinta dan setia padanya. Mereka telah berjuang bersama selama lima belas tahun. Susah senang mereka pikul bersama. Sementara Lebai begitu mudah mengkhianatinya. Sesal, itu yang ia rasa.

“Mi, pulang ya. Papi mau minta maaf.” Lebai memohon pada istrinya melalui telepon.

(selesai)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...