Selasa, 03 Januari 2012

LEBAI

LEBAI (bagian 1)

Karya: Lilih Muflihah

Lebai kembali terjaga di tengah malam yang sunyi. Tiba-tiba ia terbangun dari tidurnya yang singkat. Lalu ia paksa matanya untuk kembali terpejam namun usahanya sia-sia. Ia hadapkan wajahnya ke langit-langit kamar, pikirannya menerawang jauh. Ia membalikkan badannya ke kiri dan ke kanan, menutup mukanya dengan bantal, berusaha keras untuk terlelap bahkan membangunkan istrinya yang tidur di sampingnya.

“Papi kok belum tidur?” Tanya istrinya dan Lebai hanya menjawab dengan senyum kecut.

“Tenang saja, Pi. Usaha kita sudah maksimal. Kita pasti menang.” Istrinya memang paling mengerti Lebai. Tanpa diberitahu ia sering bisa menebak degan benar apa yang Lebai pikirkan.

Pikiran Lebai terus disesaki oleh berbagai pertanyaan, hatinya dipenuhi oleh rasa yang tak terlukiskan. Gelisah itu semakin memuncak, memaksa tubuhnya untuk bangun dari tempat tidur, berjalan, membuka tirai, dan menatap gelap dari balik jendela. Sejenak mematung kemudian kembali merebahkan diri di atas kasur, mencoba untuk tidur. Besok adalah hari yang penting untuknya.

Seharusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena Timo, saingan terberatnya itu telah terkubur, membusuk di dalam tanah. Kisah kematian Timo begitu menggemparkan. Bukan saja karena Timo adalah orang yang paling berpengaruh di kota ini tapi juga karena Timo mati menggenaskan. Ia tewas tersedak kacang goreng. Beredar cerita di masyarakat bahwa Timo tewas akibat terkena sumpah seorang kakek yang berhasil menerobos masuk ke dalam kantornya. Sang kakek hanya ingin meminta keadilan karena rumahnya digusur dengan paksa tanpa ganti rugi namun Timo yang merasa terganggu menyuruh ajudannya untuk mengusir kakek itu.

Kematian Timo setidaknya membuat Lebai merasa mendapat keadilan dari Tuhan. Selama ini Lebai selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Timo. Berawal ketika mereka sama-sama masih menjadi mahasiswa, Timo berhasil mengalahkannya dalam pemilihan presiden kampus. Kala itu, Timo menyuruh beberapa orang temannya untuk menempelkan selebaran yang berisi tentang keburukan Timo. Cerita tentang selebaran itu dengan cepat menyebar ke seluruh kampus dan Timo berhasil membuat orang percaya dan menyimpulkan bahwa Lebailah pelakunya. Rasa sakit difitnah, masih tersimpan rapi dalam hatinya. Bahkan dalam urusan cinta pun Lebai harus mengaku kalah dari Timo.

Persaingan kembali terjadi saat Lebai dan Timo sama-sama mencalonkan diri menjadi walikota lima tahun yang lalu. Dan untuk yang kesekian kali, Lebai harus menelan pil pahit kekalahan. Timo berhasil merebut kursi walikota meski dengan melakukan kecurangan. Timo membayar panitia pemungutan suara di tingkat kelurahan dan kecamatan agar mereka memanipulasi hasil suara. Lebai yang tidak terima berusaha keras untuk mencari keadilan. Sayangnya, tak seorang pun yang mau bersaksi bahkan mereka dengan sukarela menutupi keburukan Timo.

Lebai dapat bernafas lega pada pemilihan kali ini. Tak ada lagi Timo yang akan menghalanginya. Para saingannya pun tak sepopuler Lebai. Saingannya yang pertama seorang aktivis yang tidak terlalu banyak dana untuk mencari dukungan, saingannya yang kedua bukan berasal dari kota ini sehingga tak banyak yang mengenalnya. Sedangkan saingannya yang ketiga tidak terlalu berpengalaman dalam berpolitik. Secara umum Lebai berada di atas angin, ia memang lebih baik dari para saingannya tapi ia masih merasakan sesuatu yang mengganjal hatinya. Ia dihantui kecemasan luar biasa, ia tak ingin lagi gagal. Keinginannya untuk menjadi orang nomor satu di kota ini telah lama ia idamkan.

Beberapa minggu yang lalu, saat ia berkunjung ke suatu tempat di daerah pinggiran kota ini, Lebai melihat seorang anak yang bertubuh sangat kurus disangga tulang-tulang rapuh yang berbalut kulit. Matanya seolah mau keluar dan perutnya buncit, berusaha untuk duduk tegak namun terkulai lemas. Tak banyak kata yang keluar dari mulut Lebai. Ia hanya sedikit menebar senyum kecut dan mengaku turut prihatin atas apa yang diderita oleh anak itu.

“Bawa ke rumah sakit. Urusan biaya biar saya yang tanggung.” Ucapnya pada salah seorang laki-laki kepercayaannya yang berdiri tepat di sampingnya.

Momen itu begitu singkat namun beberapa wartawan berhasil mengabadikannya. Bahkan seorang reporter televisi mewawancarainya. Keesokan harinya sejumlah media cetak lokal memberitakan tentang kebaikan Lebai dan semua pun terkesan.

Beberapa hari yang lalu, Lebai berdiri dengan gagah di atas panggung berorasi. Ia terampil memilih diksi dalam kalimat, meramu kata begitu bermakna, halus namun tajam. Sesekali mengumbar tawa, seringkali memberikan janji-janji bahkan tak segan menyindir para saingannya yang ia katakan sebagai orang-orang yang haus kekuasaan, tak peduli kaum miskin, dan serakah. Hari itu suasana begitu ramai, semua pengunjung bersorak-sorai memuji Lebai. Beberapa artis turut memeriahkan suasana dengan mendendangkan lagu-lagu yang indah. Tentu saja Lebai tak ingin melewatkan kesempatan untuk menunjukkan suaranya yang merdu dengan menyanyikan sebuah lagu. Semua orang takjub mendengar suaranya.

Ketika Lebai turun panggung, seorang perempuan paruh baya menghampirinya setelah sebelumnya perempuan tersebut dihalang-halangi oleh beberapa lelaki bertubuh tegap agar tidak menemui Lebai. Akan tetapi Lebai menyuruh mereka membiarkannya mendekat. Lebai menghiasi wajahnya dengan senyuman, mencoba mendengarkan keluh kesah perempuan itu.

“Pak, suami saya kena PHK. Tolong saya.” Keluh perempuan itu dengan berderai air mata. Ia tak mampu menahan tangisnya sampai isakan tangis menghentikan kata-kata keluar dari mulutnya.

“Tenang, Bu. Jika saya terpilih, semua pasti senang.” Janji Lebai dengan santai.

Lalu ia membisikkan sesuatu kepada istrinya. Kemudian istrinya mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu rupiah dan memberikannya kepada perempuan paruh baya itu. Sebagai modal usaha, katanya. Tak lupa bingkisan berupa baju kaos, topi, stiker, dan kalender bergambar wajah Lebai diberikan kepada perempuan itu.

“Ibu, ingat contreng nomor empat.” Bisik istri Lebai yang disambut dengan senyuman girang perempuan itu dan anggukkan kepala beberapa kali. Lebai paling pandai menarik simpati orang.

Besok adalah hari pemilihan. Memang belum akan langsung disahkan siapa yang keluar sebagai pemenang. Akan tetapi dengan perhitungan cepat, setidaknya dapat diketahui perolehan suara sementara. Lebai sudah mengerahkan segala usaha untuk menarik perhatian masyarakat agar memilihnya, tentu saja dengan cara-cara menurutnya benar bahkan ia melarang tim suksesnya menggunakan taktik serangan fajar. Sebenarnya bukan tak ingin tapi ia ingin tampil sebagai pemenang yang bersih di mata masyarakat.

***

Lebai akhirnya lega karena berhasil menjadi walikota. Istri yang sangat mencintainya pun turut senang karena menikmati berbagai fasilitas daerah tanpa mengeluarkan sepeser uang. Tak banyak yang dilakukannya untuk memperbaiki kondisi kota yang semrawut, warisan walikota sebelumnya. Timo memang berhasil menghabiskan uang rakyat untuk kepentingannya. Namun anehnya tak ada yang berani mengusut korupsi yang dilakukannya. Kini Timo telah mati namun hasrat balas dendam Lebai belum surut. Ia berusaha keras mencari informasi untuk mengusut kasus korupsi yang dilakukan Timo. Atas nama keadilan dan penegakan hukum namun sebenarnya demi balas dendam yang baru bisa ia lakukan saat ini.
Namun tiap malam Lebai sulit memejamkan mata, meminum pil tidur menjadi kewajiban setiap malam. Namun entah karena pengaruh pil tidur atau karena pengaruh dendamnya, sejak dilantik menjadi walikota, ia sering memimpikan Timo.

“Lebai, hidupmu tak akan lama lagi. Berhentilah menggangguku, kau tak kan pernah bisa mengalahkanku. Bahkan kau lebih rendah dari seorang pecundang. Hahaha....” Tawa Timo menggelegar hingga membuat Lebai terjaga.

“Sialan, bahkan hantumu pun menghinaku.” Umpat Lebai.

Tiba-tiba terdengar suara deringan ponselnya. Segera ia mengambil ponselnya sambil mengusap keringat di keningnya yang berbutir-butir sebesar biji jagung dengan bajunya.

“Mas Lebai apa kabar?” tanya seorang perempuan dari seberang telepon.

“Siapa ini?” tanya Lebai dengan suara keras, nyaris membangunkan istrinya.

“Mini, Mas.” Jawab perempuan itu singkat.

Kotak kenangannya tentang Mini terbuka lagi. Mini, perempuan yang sampai saat ini masih ia cintai. Bukan. Bukan cinta tapi hasrat untuk memiliki.

“Aku ingin bertemu denganmu, Mas.”

Seperti kejatuhan bulan, Lebai terdiam tak bisa berkata, lidahnya kelu. Ingatannya kembali ke masa lalu. Saat ia masih kuliah. Mini yang cantik dan polos membuatnya jatuh cinta. Apapun ia lakukan untuk menyenangkan Mini. Hampir tiap hari lebai rela mengantar dan menjemput Mini ke manapun ia mau. Ia juga membantu Mini mengerjakan tugas-tugas dari dosen. Hampir semua orang di kampus menganggap mereka adalah pasangan serasi. Tapi sayang Lebai tak berani mengungkapkan isi hatinya sampai akhirnya Timo merebut Mini dari sisinya.

“Mas, kok diem? Besok, aku akan ke kantormu jam 7 pagi.” Ujar Mini mengakhiri pembicaraan.

Lebai masih terpaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...