Minggu, 29 Januari 2012

ES JERUK

Oleh: Lilih MUflihah

Alkisah ada seorang laki-laki yang hendak bertemu dengan calon bapak mertuanya. Mereka bersepakat untuk bertemu di sebuah rumah makan ternama. Dari hasil penyelidikannya, ternyata calon bapak mertuanya itu sangat menyukai nasi goreng. Karena masih ada waktu beberapa minggu sebelum pertemuan, susah payah ia belajar menyebutkan nasi goreng secara tepat.


Tibalah hari yang dinanti, laki-laki dan calon bapak mertuanya bertemu dan duduk berhadapan. Laki-laki itu berdandan sangat tampan dan tampil begitu percaya diri. Tanpa menunggu lama, ia memanggil seorang pelayan.

“Nasi goreng lengkap dua,” ucapnya mantap dan bangga.

“Minumnya?” tanya pelayan.

“Es jeyuk.”

Ups, rupanya dia lupa belajar bagaimana mengucapkan es jeruk dengan benar.

Cerita di atas hanyalah kisah fiksi anonim yang tersebar dari mulut ke mulut dengan berbagai versi. Kisah yang disampaikan sekedar hiburan tapi ada hal yang menarik yang bisa menjadi renungan bersama. Titik tekannya bukan pada ketidakbisaan mengucapkan es jeruk dengan benar tapi rasa cepat puas dalam belajar, merasa bangga akan pencapaian sesuatu hingga melupakan hal lainnya. Laki-laki itu lupa bahwa huruf R tidak hanya terdapat dalam nasi goreng.

Penyakit lupa belajar ini melanda berbagai kalangan. Ada pemimpin yang lupa belajar bahwa rakyatnya menderita karena kebijakan yang ia buat. Ada guru yang lupa belajar bahwa kondisi siswa terus berubah seiring perkembangan zaman. Ada siswa yang lupa bahwa sekolah bukan hanya untuk mendapat nilai. Ada orang tua yang lupa belajar bahwa anak tak hanya butuh materi tapi juga butuh perhatian dan kasih sayang. Ada juga manusia yang lupa bahwa hidup di dunia bukanlah selamanya.

Tak dapat dipungkiri sering kita suka berbangga hati dengan pengetahuan yang sudah didapat hingga mungkin ada rasa enggan untuk terus belajar. Padahal dunia terus berkembang dan perkembangan itu menuntut kita untuk terus belajar. Proses mencari tahu akan membuat kita semakin tahu bahwa banyak hal yang tidak diketahui dan proses belajar ini seharusnya terus berlangsung sampai kontrak hidup kita di dunia ini habis. Jangan sampai kita ikut lupa bahwa huruf R juga terdapat dalam es jeruk.

(Salah satu tulisan yang tersimpan di file lama. Renungan yang pernah ku buat dulu dan kini menjadi renungan kembali bagiku)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...