Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

Helvy Tiana Rosa Baca Puisi Cintaku Padamu

AKAR

oleh: Lilih Muflihah

Tanpa akar, kenanga yang harum dan mawar putih yang indah sulit bertahan hidup. Selama tanah masih berlapang dada dan tetes air terus bermurah hati, tentu saja semuanya dengan izin ALLAH, akar akan kuat menghujam untuk menopang batang beraneka ragam bunga menawan, tanaman hijau bahkan pohon besar sekalipun. Akar jugalah yang menyerap air dan zat-zat makanan untuk keberlangsungan hidup berbagai tumbuhan.

Akar yang umumnya berada di bawah, jarang sekali diperhatikan. Yang tampak jelas sering dipandang hanyalah bunga yang cantik, buah yang ranum, daun yang gemulai, atau batang pohon yang kokoh. Padahal peran akar begitu penting bagi keberlangsungan hidup suatu tumbuhan. Bahkan karena akar sebagai penyimpan cadangan makanan, tumbuhan masih bisa hidup dan tumbuh meskipun batangnya sudah patah, asalkan akarnya masih ada. Bayangkan jika para akar berunjuk rasa, melakukan aksi mogok kerja, apa yang akan terjadi dengan batang, daun, dan bunga? Tapi untunglah akar tetap seti…

ES JERUK

Oleh: Lilih MUflihah

Alkisah ada seorang laki-laki yang hendak bertemu dengan calon bapak mertuanya. Mereka bersepakat untuk bertemu di sebuah rumah makan ternama. Dari hasil penyelidikannya, ternyata calon bapak mertuanya itu sangat menyukai nasi goreng. Karena masih ada waktu beberapa minggu sebelum pertemuan, susah payah ia belajar menyebutkan nasi goreng secara tepat.

Tibalah hari yang dinanti, laki-laki dan calon bapak mertuanya bertemu dan duduk berhadapan. Laki-laki itu berdandan sangat tampan dan tampil begitu percaya diri. Tanpa menunggu lama, ia memanggil seorang pelayan.

“Nasi goreng lengkap dua,” ucapnya mantap dan bangga.

“Minumnya?” tanya pelayan.

“Es jeyuk.”

Ups, rupanya dia lupa belajar bagaimana mengucapkan es jeruk dengan benar.

Cerita di atas hanyalah kisah fiksi anonim yang tersebar dari mulut ke mulut dengan berbagai versi. Kisah yang disampaikan sekedar hiburan tapi ada hal yang menarik yang bisa menjadi renungan bersama. Titik tekannya bukan pada ketidakbisaan mengu…

LEBAI

LEBAI (Bagian 2)

Karya: Lilih Muflihah
Pagi hari Lebai bergegas ke kantor. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Mini, pujaan hatinya. Sarapan pagi yang telah disediakan oleh istrinya, Selfi, tidak ia sentuh bahkan kopi kesukaannya tak sempat ia minum.

“Pah, kok buru-buru banget?” tanya Selfi sedikit heran.

“Aku ada rapat.” Jawabnya singkat tanpa ekspresi kemudian masuk ke dalam mobil dan meminta supirnya untuk melaju dengan kecepatan tinggi.

Di dalam mobil Lebai diam seribu bahasa. Biasanya dia akan berbincang dengan supirnya tentang berita hari ini. Lebai cukup pintar memilih supir. Ismet namanya, seorang mahasiswa di sebuah universitas swasta, selain lihai menyetir mobil, ia juga cerdas, sangat menyenangkan untuk diajak berdiskusi dan sering membantu Lebai mengerjakan tugas kuliah S2-nya.

Sesampainya di kantor, Lebai bergegas masuk. Ternyata Mini sudah duduk di kursi tunggu.

“Yuk masuk.” Ajaknya.

Kantor masih sepi sehingga tak ada yang tahu pertemuan Lebai dan Mini, apalagi pertemuan merek…

LEBAI

LEBAI (bagian 1)

Karya: Lilih Muflihah
Lebai kembali terjaga di tengah malam yang sunyi. Tiba-tiba ia terbangun dari tidurnya yang singkat. Lalu ia paksa matanya untuk kembali terpejam namun usahanya sia-sia. Ia hadapkan wajahnya ke langit-langit kamar, pikirannya menerawang jauh. Ia membalikkan badannya ke kiri dan ke kanan, menutup mukanya dengan bantal, berusaha keras untuk terlelap bahkan membangunkan istrinya yang tidur di sampingnya.

“Papi kok belum tidur?” Tanya istrinya dan Lebai hanya menjawab dengan senyum kecut.

“Tenang saja, Pi. Usaha kita sudah maksimal. Kita pasti menang.” Istrinya memang paling mengerti Lebai. Tanpa diberitahu ia sering bisa menebak degan benar apa yang Lebai pikirkan.

Pikiran Lebai terus disesaki oleh berbagai pertanyaan, hatinya dipenuhi oleh rasa yang tak terlukiskan. Gelisah itu semakin memuncak, memaksa tubuhnya untuk bangun dari tempat tidur, berjalan, membuka tirai, dan menatap gelap dari balik jendela. Sejenak mematung kemudian kembali merebahkan d…