Selasa, 27 April 2010

Nikah Tercatat


Saat kuliah beberapa tahun yang lalu, seseorang pernah meminta saran atas hal yang mungkin tak pernah kupikirkan. Ketika itu aku sedang menunggu dosen, seseorang menghampiriku dan setelah sedikit berbasa-basi, ia bercerita bahwa ada seorang laki-laki yang ingin menikahinya namun karena mereka masih sama-sama kuliah, laki-laki itu meminta mereka nikah siri alias nikah sembunyi-sembunyi dan tanpa dicatat KUA. kemudian aku berkata padanya kalau aku tidak memiliki pengetahuan tentang itu namun ia terus memaksa agar aku berpendapat. Akhirnya aku memberikan sebuah pertanyaan untuk ia renungkan. Jika suatu saat kalian mengalami masalah dan tanpa terduga kamu hamil dan melahirkan anak, apa jaminannya kamu dan anak kamu akan mendapatkan hak-hak kalian?


Kemudian setelah tahun-tahun berganti, aku diajak ibuku mengikuti seminar tentang pentingnya pencatatan pernikahan. Saat itu ada tiga orang pembicara yang pakar dalam hukum positif, hukum Islam, dan perempuan. Dari diskusi yang terjadi, aku tahu bahwa banyak masalah mengapa pernikahan tidak dicatat secara hukum. Misalnya mahalnya biaya mengurus surat nikah, peraturan yang menghambat keinginan poligami, menjadikan pernikahan sebagai sarana mencari uang dengan sistem kawin kontrak, dan sebagainya. Padahal dengan nikah tercatat dapat memberikan ketenangan, ketertiban, kepastian hukum, jaminan untuk hak-hak anak, warisan, menghindari kemungkinan terjadinya pernikahan sedarah, cerai tanpa putusan pengadilan, dan sebagainya.

Setelah seminar itu aku punya kesimpulan sendiri, jika perjanjian jual beli saja harus ada hitam di atas putih, mengapa pernikahan yang ruang lingkupnya lebih besar dari jual beli tidak dicatatkan?

2 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...