Selasa, 27 April 2010

Ibu yang baik: bekerja atau tidak



Sebenarnya ayah ibuku adalah orangtua yang paling hebat sedunia, tapi dulu ketika SD, aku pernah iri terhadap teman-temanku atas dua hal. Pertama, aku iri ketika hujan tiba-tiba,ada yang menjemput teman-temanku sambil membawakan payung sementara aku harus menumpang payung temanku yang lain karena tak ada yang menjemputku. Kedua, aku iri ketika sakit sedikit saja temanku boleh tidak masuk sekolah sementara jika hanya sekedar tak enak badan, aku harus tetap sekolah.


Sekarang aku berkesempatan untuk mengajar murid SD. Meskipun kami bertemu hanya satu setengah jam dalam dua kali seminggu, aku sedikit tahu tentang latar belakang mereka. Ada muridku yang tinggal berdua saja dengan ayahnya, sementara ibunya bekerja di daerah lain dan mereka bertemu sebulan sekali. Ada muridku yang harus menjaga adiknya sepulang sekolah karena sulitnya mencari pembantu sementara ayah dan ibunya bekerja. Ada yang orangtuanya bekerja setiap hari dan mereka hanya bertemu ketika malam hari tapi ada juga yang ibunya tidak bekerja tapi terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah tangga atau sibuk dengan dirinya sendiri.

Banyak alasan mengapa para ibu memilih untuk bekerja di luar rumah, faktor ekonomi biasanya lebih dominan namun bukan berarti mereka tidak menjalankan tugas utamanya sebagai ibu. Misalnya ibuku yang meski bekerja di luar rumah tapi masih sempat memasak makanan untuk keluarga, memeriksa buku-buku dan mengajari anak-anaknya. Banyak juga alasan mengapa sebagian ibu memilih untuk tidak bekerja. Misalnya seorang ibu rela berhenti bekerja agar ia bisa lebih fokus mencurahkan perhatian kepada anak-anaknya. Bagiku bekerja atau tidak bekerja adalah pilihan yang memiliki konsekuensi masing-masing.

Tidak sedikit anak yang tumbuh menjadi anak yang mandiri karena ayah dan ibunya bekerja, mereka lebih bisa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat atas masalah yang dihadapinya namun banyak juga dari mereka yang tumbuh menjadi anak yang kurang perhatian. Dalam persepsiku, anak yang diasuh oleh ibu yang tidak bekerja akan mendapatkan kasih sayang yang lebih banyak sehingga tumbuh kembangnya lebih baik namun ternyata tidak semua demikian, ibu yang tidak bekerja bukan jaminan akan menjadi ibu yang baik. Karena sibuk dengan urusan rumah tangga atau mungkin urusan suaminya atau bahkan urusan dirinya sendiri hingga melupakan urusan anaknya.

Tak ada jaminan perempuan berpendidikan tinggi bisa menjadi ibu yang baik. Ibu yang bekerja pun bukan berarti ibu yang tidak baik. Alangkah sayangnya jika seorang ibu yang memilih bekerja tapi melupakan tugas utamanya sebagai ibu dan alangkah celakanya jika seorang ibu memilih untuk tidak bekerja tapi tidak bisa berbuat banyak dalam mengurus dan mendidik anak-anaknya. Meskipun aku belum menjadi seorang ibu, sepertinya tugas ibu tidaklah mudah. Semoga kita bisa menjadi ibu yang baik dan melahirkan anak-anak yang sholeh/sholehah, sehat, cerdas, berkualitas sehingga berguna bagi umat. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...