Selasa, 27 April 2010

Catatan akhir kuliah


Tak ada maksud untuk membanggakan diri, aku hanya ingin berbagi pengalaman ketika menyelesaikan kuliah. Keinginan berbagi ini berawal dari sebuah kisah yang menurutku tragis, yang kudengar dari seorang teman.
Penyesalan selalu datang belakangan dan aku tak ingin penyesalan itu menghampiri orang-orang terdekatku.

Temanku itu bercerita tentang seorang mantan aktivis kampus yang menjadi office boy.
Karena ia gagal menyelesaikan kuliahnya sampai tuntas, ijazah sarjana tak pernah ia dapatkan. Saat kuliah ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan namun ia harus melepas status mahasiswanya karena masa studinya sudah habis. Memang tidak ada salahnya bekerja sebagai office boy namun dengan potensi yang ia punya, sesungguhnya ia bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik jika saja ia tidak salah langkah.



Tidak sedikit mantan mahasiswa yang serupa dengannya bersembunyi dibalik kesibukan berorganisasi atau pekerjaan untuk membenarkan keputusannya. Padahal pada umumnya, kuliah merupakan amanat orangtua yang harus diselesaikan. Betapa bahagianya orangtua melihat anaknya berhasil meraih gelar. Memang gelar bukanlah segalanya, banyak yang tidak selesai kuliah tapi sukses dan tidak sedikit orang yang menyandang gelar tapi pengangguran. Namun tidak terpikirkah kekecewaan orangtua yang timbul saat kita tidak peduli dengan pengorbanan mereka. Habis sudah waktu, tenaga, dan uang tanpa mendapatkan apa-apa. Jika memang mendapatkan gelar bukanlah salah satu tujuan, buat apa kuliah?


Saat kritis kuliah adalah saat-saat terakhir, saat penyelesaian tugas akhir, skripsi ataupun sejenisnya. Saat itu banyak sekali hambatan yang siap merintangi mulai dari faktor eksternal seperti penolakan judul berulang kali, dapat dosen pembimbing yang sering keluar kota bahkan ke luar negeri, dapat dosen yang perfeksionis sehingga tulisan kita sering dihina, waktu bimbingan yang tidak jelas, atau dapat tawaran kerja. Ditambah lagi faktor internal seperti semangat yang naik turun, putus asa ketika draft yang diajukan salah melulu, patah hati ditolak cinta atau tiba-tiba berkeinginan menikah, dan sebagainya. Semua hambatan itu sudah pasti menguras tenaga, waktu, pikiran, uang bahkan airmata. Namun jika kita berusaha keras dan bertawakal, insyaALLAH semua urusan kita akan dipermudah. Aku sudah membuktikannya, sekarang giliran kalian. Semangat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...