Selasa, 27 April 2010

3 Perempuan antara coklat dan mengkudu



Warung bakso sepertinya akan menjadi tempat favorit untuk berkumpul. Setelah kelas puisi bakso sukses meninggalkan kesan yang tak terlupakan, pertemuan 3 perempuan juga melahirkan kisahnya sendiri.



Di suatu Ahad, aku, Jams, dan Lia sepakat untuk makan bakso. Kami tidak merencanakan pertemuan itu sebelumnya namun perbincangan yang terjadi mengalir begitu seru. Bahkan untaian-untaian kalimat yang kami rajut mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya. Banyak hal yang menjadi bahan renunganku meski perbincangan tak lepas dari canda dan tawa hingga pipiku pegal dibuatnya. Rasanya aku tak ingin beranjak, kala itu.


Di warung bakso yang sedang sepi itu, banyak kisah yang terlontar. Kami pun membuat perumpaan coklat sebagai penerimaan cinta dan mengkudu sebagai penolakan cinta. Tapi biarlah kami bertiga menyimpan kisah lengkapnya.


Ada satu cerita yang aku hampir tidak percaya jika itu nyata. Salah satu dari kami bercerita tentang kisah sebelum akad nikah. Seorang penghulu bertanya kepada seorang mempelai perempuan apakah ia menikah dengan kerelaan hati ataukah karena keterepaksaan. Mempelai perempuan itu menjawab, ”Saya dipaksa. Saya dipaksa karena cinta”. Tentu saja langsung disambut dengan derai tawa.


Bayangkan, di tengah orang ramai, di saat-saat akan memasuki babak baru kehidupannya, sosok itu masih bisa menjawab dengan kalimat menakjubkan. Apalagi jika antara kalimat ”saya dipaksa” dan ”karena cinta” diselingi tarikan nafas beberapa detik untuk memberikan kesempatan hadirin berfikir macam-macam. Sungguh senyuman saja tak cukup untuk merespon kejadian itu, iya kan?


Akhirnya setelah kami merasa tak enak hati berlama-lama di depan mangkuk-mangkuk dan gelas-glas yang sudah kosong, kami bergegas pulang. 3 perempuan, antara coklat dan mengkudu telah berbagi kisah dan canda dan ingin membuat dunia iri mendengarnya.

4 komentar:

  1. hehe... ceritanya tetep kita simpen ya.. :-D

    BalasHapus
  2. coklat dan mengkudu. lezat dan nanti dulu. nikmat sehat, siapa tahu reumatikku berlalu.
    hehe

    BalasHapus
  3. @lia: ok
    @ekosta: mengkudu emang gak enak tapi ternyata bisa menyembuhkan beberapa penyakit :)

    BalasHapus
  4. Ada ya cerita orang laoin ga ngerti :) (geleng2 kepala)

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...