Kamis, 17 Desember 2009

Cerita tentang Berkunjung ke Rumah Uwak

Cerita anak karanganku dimuat di koran Lampung Post. Senang deh hatiku.

Lampung Post, Minggu, 29 November 2009

Berkunjung ke Rumah Uwak

Oleh: Lilih Muflihah


SAAT liburan Lebaran kemarin, ibu guru menyuruh murid-murid menuliskan karangan tentang liburan Lebaran. Besok, ibu guru akan memilih beberapa di antara murid-murid di kelas untuk membacakan karangan yang sudah dibuat. Semoga saja aku juga dapat giliran untuk bercerita karena aku sudah menulis tentang berkunjung ke rumah kakak bundaku. Aku biasa memanggilnya uwak.

Aku berkunjung ke rumah uwak saat Lebaran. Rumah uwak tidaklah besar sehingga saat aku, bunda, ayah, kakak, adik, paman-paman, bibi-bibi, dan sepupu-sepupuku berkumpul, terasa ramai sekali. Padahal tidak semua adik uwak bisa datang saat itu. Dulu ketika kakek dan nenek masih hidup, saat Lebaran kami berkumpul di rumah kakek dan nenek, tapi setelah kakek dan nenek meninggal, kami berkumpul di rumah uwak. Saat Lebaran, uwak menyediakan bermacam-macam kue untuk kami, ditambah lagi dengan kue-kue yang dibawa oleh kami semua yang berkunjung membuat aku bingung harus memilih kue yang mana untuk dimakan. Bunda pernah menasihati aku dan kakak bahwa kita tidak boleh membuang-buang makanan. Ambil makanan seperlunya dan tidak boleh berlebihan.

Sebenarnya rumah uwak tidaklah jauh dari rumahku. Kadang-kadang aku ke rumahnya meski bukan saat libur. Tapi kalau hari biasa, aku hanya akan berjumpa dengan uwak perempuan, uwak laki, Kak Fery dan Kak Sovy. Jika aku menginap di rumah uwak, aku selalu memilih untuk tidur di ranjang dua tingkat.

Dulu ranjang itu sengaja dipesan khusus karena dibuat dari besi bukan kayu seperti yang dijual di toko. Aku suka sekali tidur di kasur bagian atas karena kasurnya dikelilingi besi yang dibentuk seperti pagar, mirip dengan tempat tidur bayi milik adikku di rumah. Bahkan ada pintunya juga yang bisa digeser seperti pintu gerbang.

Kata uwak, ranjang itu dibuat sebelum kak Fery dan kak Sofy lahir, umurnya lebih tua dari kak Fery.

Rumah uwak cukup unik karena di ruang tengahnya ada kolam ikan. Di dalamnya terdapat ikan-ikan yang berukuran kecil. Ada ikan mas, ikan koki, dan ikan gufi. Ikan gufilah yang jumlahnya paling banyak. Ada juga yang menyebut ikan gufi dengan sebutan ikan malaria karena bentuknya yang kecil dan suka makan jentik-jentik nyamuk. Ukuran tubuhnya kecil dan tak mungkin membesar seperti ikan mas atau ikan koki tapi ekornya bagus berwarna-warni dan agak lebar seperti ikan cupang. Mereka cepat sekali berkembang biak. Kata Kak Fery, ikan gufi itu melahirkan, aku jadi ingin segera bertemu dengan Pak Wahyu, guru IPA-ku di sekolah. Aku ingin bertanya apakah benar yang dikatakan kak Fery.

Aku dan sepupu-sepupuku tak melewatkan kesempatan menangkap ikan gufi untuk dibawa pulang ke rumah kami masing-masing. Dengan gelas plastik bekas air minum, kami berburu menangkap ikan, mencari ikan-ikan yang ekornya bagus. Kemudian air kolam menjadi keruh dan kami semakin kesulitan menangkap ikan-ikan itu.

Biasanya Kak Fery yang mengambilkannya untuk kami tapi karena kami datang bersamaan dan suasana rumah begitu ramai, Kak Fery membolehkan kami untuk menangkapnya sendiri. Kak Fery hanya berdiri mengawasi kami. Seru sekali, sebelas orang anak menangkap ikan di kolam yang tidak besar hingga Kak Sovy berulangkali mengingatkan kami untuk mengelap air yang berceceran di lantai.

Lalu kami menaruh ikan-ikan itu di botol-botol plastik gelas air minum. Cukup sulit menangkap ikan-ikan itu bahkan sering ikan berhasil lolos dari tangkapan ketika aku hendak memasukkannya ke dalam botol tapi aku berhasil mendapatkan 10 ekor ikan gufi, 7 ekor jantan dan 3 ekor betina. Ikan jantan dan betina memiliki bentuk yang berbeda. Ikan jantan berbentuk kecil dan berekor lebar sedangkan ikan betina berbentuk lebih besar dan berekor kecil.

Lelah rasanya berburu ikan walau hati gembira. Setelah mencuci kaki dan tanganku dengan sabun di kamar mandi, aku duduk di tangga sambil memperhatikan ikan-ikan hasil tangkapanku, yang memiliki ekor berwarna warni, ada jingga, biru, dan hitam. Sementara beberapa sepupuku yang masih belum puas berburu ikan masih duduk di pinggir kolam. Aku jadi teringat dengan Dafi, sepupuku yang baru berumur tiga tahun, sayang dia tidak datang. Ia sangat suka dengan ikan dan pernah ketiduran sambil memeluk botol yang berisi ikan sepulangnya dari rumah uwak.

Tidak semua yang duduk di pinggir kolam ikut berburu ikan, Dwi salah satunya. Ia adalah sepupuku yang masih berumur empat tahun. Ia hanya menonton kami berusaha menangkap ikan. Ia sangat suka berhitung sehingga ikan hasil tangapan kami yang kami taruh di botol, ia hitung satu per satu.

Ada lagi sepupuku yang paling bersemangat dalam perburuan itu, namanya Rendi. Ia sampai masuk ke dalam kolam sehingga membuat air kolam semakin keruh. Ia menangkap ikan ke sana ke mari. Saat tertangkap ikan yang tidak sesuai, ia masukkan lagi ke kolam, mangaduk-aduk air kolam. Setelah kak Fery melihat kelakuannya, ia disuruh untuk segera keluar dari kolam kemudian kak Fery meminta kami untuk berhenti berburu sejenak sampai air kolam tidak terlalu keruh.

Kini liburan telah usai, saatnya kembali ke sekolah. Aku sudah menyiapkan buku-buku dan alat tulis untuk besok, aku siap bersekolah dan aku juga siap jika mendapat giliran menceritakan di depan kelas betapa serunya liburanku berkumpul bersama keluarga.

2 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...