Rabu, 30 September 2009

JEJAK MASA LALU DALAM KISAH KE-2


Berangkat dari masa lalu aku kini kemudian sejenak berhenti untuk mengenang yang sudah terlewati. Kutuliskan rangkaian kalimat-kalimat ini sekedar mengingatkan bahwa aku tak ingin terlupakan. Ini adalah sepenggal cerita tentang kisah hari Sabtu, 19 September 2009, buka puasa terakhir Ramadhan 1430H.


Berawal dari info yang terekam dalam forum diskusi fesbuk teman-teman SMA yang sempat sekelas denganku selama dua tahun yaitu di kelas 1.3 dan 2.3. Lalu diperjelas dengan pesan yang kuterima dari Asni melalui media yang sama. Buru-buru aku menanyakan nomor HP padanya karena aku tak ingin terlewatkan. Meski setelah tahu tempat di mana tempat pertemuannya, aku sempat bingung bagaiman caranya untuk sampai ke sana.

Kemudian ada info lagi tentang perpindahan tempat pertemuan. Aku sedikit lega karena lokasi yang kedua tersebut biasa dilewati oleh angkot Sukarame. Dengan mengumpulkan keberanian, kuputuskan untuk berangkat sendiri, maklum tak ada yang mengantar. Aku juga sempat bertanya pada seorang teman tentang kejelasan letak lokasi tersebut sehingga aku bisa meyakinkan ibu untuk memberiku izin.

Melajulah aku dari rumah dengan dari rumah dengan angkot Way Halim. Aku sempat cemas karena sesampainya di terminal Pasar Bawah, tak ada satu pun angkot Sukarame yang terlihat apalagi sore semakin mendekati malam. Namun akhirnya ada juga angkot yang cukup padat penumpang. Tak apalah sedikit berdesakan.

Sampai di tempat ternyata sudah azan Maghrib, aku langsung berbuka puasa. Lega akhirnya bisa bertemu dengan teman-teman. Ada Asni, Sovy, Mashur, Fery, Primus, Oscar, Andar, dan aku. Kami mengorek singkat keadaan terkini dan membongkar sedikit kenangan masa lalu. Bahkan aku sempat takjub saat Primus dan Andar masih ingat urutan presensi siswa huruf A di kelas. Sepertinya Asni, Sovy, Primus, Andar, dan Mashur menyimpan banyak memori masa-masa di kelas dulu. Kalau aku dulu terlalu pendiam sampai tak punya kenangan menghebohkan seperti mereka karena aku dulu merasa rendah diri bersama dengan orang-orang cerdas dan pintar seperti teman-teman sekelasku itu.

Beberapa saat yang cukup lama, datanglah Fajrun. Kami pun kembali memesan es teh, melanjutkan keceriaan dan perbincangan yang tak tentu arah sampai acara Take Me Out pun tak luput, mungkin karena semua yang hadir berpredikat ‘available’ kecuali Fajrun.

Setelah kami merasa risih karena sudah banyak pengunjung yang pulang dan para cowok merelakan uangnya untuk membayar semua hidangan yang sudah dipesan, kami pun pulang. Aku diantar oleh salah satu dari mereka yang teman SMPnya adalah teman kuliahku dulu, sepupunya adalah teman kuliahku di pasca, sahabat sepupunya itu adalah temanku juga.

Sebenarnya setelah pertemuan itu, mereka mengadakan jalan-jalan ke pantai pada lebaran ke-3 tapi sayang aku tak bisa ikut karena ada acara keluarga. Mudah-mudahan aku bisa bertemu lagi dengan mereka dan teman-teman yang lainnya.

NB: mohon maaf jika tulisan ini kurang representatif.

JEJAK MASA LALU DALAM KISAH KE-1


Berangkat dari masa lalu aku kini kemudian sejenak berhenti untuk mengenang yang sudah terlewati. Begitu banyak kenangan yang tersimpan meski tak semua terkatakan kemudian kutuliskan kalimat demi kalimat ini sekedar mengingatkan bahwa aku tak ingin terlupakan.

Aku sangat antusis ketika mengetahui akan ada acara buka puasa bersama teman-teman seangkatan. Awalnya tahu dari Ika lalu ku cari kejelasannya lewat Elina. Ternyata tanggal 13 September 2009 diputuskan sebagai waktu untuk Pemerintahan 2000 berkumpul.


Singkat cerita, aku berangkat ke lokasi acara tidak sendiri. Ada Elina dan suaminya yang berbaik hati mengajak aku dan Irma menumpang mobilnya. Sesampainya di sana, sudah banyak teman yang berkumpul. Aku sempat merasa malu karena ada yang mengomentari tentang berat badanku. (Wah, baru turun beberapa kilo aja sudah heboh, perjuanganku kan masih panjang. Hehe). Yang hadir saat itu antara lain Dini, Maria, Tika, Dwi, Siska, Yona, Irma, aku, sepasang suami istri Darma dan Ami, sepasang suami istri Rendi dan Ria, Ujang, Sokam, Kobe, Iqbal, Elina dan suaminya, Dian dan suaminya, Era bersama suami dan anaknya, Andes yang tak membawa istri, Adel dan pacarnya, serta Emir dan pacarnya.

Setelah puas menikmati hidangan dan berbincang-bincang dalam lingkaran yang besar, masing-masing dari kami membuat lingkaran-lingkaran kecil. Para laki-laki berkelompok entah membicarakan apa, para ibu punya perbincangan seru, para cewek pun punya obrolan sendiri, ada juga yang menyempatkan diri untuk pedekate, ada yang diam-diam mengambil foto kami dalam gaya yang tak siap kamera, sedangkan aku sibuk meminta nomor HP mereka dan sesekali berbincang, kadang-kadang ikut tertawa juga. Tapi meskipun begitu, kami sangat kompak saat foto bersama, terbukti dengan banyaknya foto yang dihasilkan dengan berbagai gaya tentunya.

Sabtu, 05 September 2009

Menikmati Malam


Bulan berani menampakkan wajahnya.
Bintang tak enggan memperlihatkan senyumnya.
Sinar-sinar lampu kuasa menunjukkan keindahannya.
Mengapa masih meminta mentari terbit di malam hari?
Cukup menikmati malam apa adanya.
(Puncak Cipanas, 30 Agustus 2009)

Beberapa hal yang perlu dketahui untuk Mencegah Stunting

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun, Pagi yang indah di hari Selasa, tanggal 12 September 2017, Direktorat Kemitraan Komunikasi K...