Kamis, 20 Agustus 2009

Merdeka (catatan 17 Agustus)

Angin berhembus kencang diiringi tumpahan hujan darikangit yang diliputi awan gelap tak menyurutkan keinginan mama untuk ikut upacara bendera 17 agustus dan dengan setia papa mengantar mama ke lapangan upacara.
Sementara itu tinggallah aku dan adik laki-lakiku sedangkan adik perempuanku masih KKN disebuah desa.

Di pagi yang dingin itu, aku dan adikku terlibat perbincangan ringan yang kemudian berubah menjadi berat. Di depan televisi yang menyala kami berdebat seru tentang apakah bangsa ini sudah merdeka atau belum. Kami memiliki perbedaan sudut pandang dalam mengemukakan pendapat. Adikku menganggap bangsa ini sudah merdeka tapi menurutku belum. Memang fakta berbicara bahwa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan Belanda maupun Jepang secara fisik tapi entahlah aku merasa ada yang janggal karena sebenarnya kemerdekaan ini siapa yang punya? Apa gunanya merdeka jika banyak rakyat yang masih menderita, banyak pengusaha yang semena-mena, banyak pejabat yang menjadi budah nafsu serakah, apa lagi ketika teroris menghantui jiwa, negara lain memandang dengan sebelah mata, dan uang menjadi penguasa. Memang menyukuri apa yang didapat lebih baik daripada menyesali apa yang luput tapi sampai kapan berpuas diri dalam kelemahan dan keterbatasan?

Setelah debat kusir singkat itu, aku dan adikku menjaga jarak beberapa jam karena ternyata kami belum bisa menguasai ego masing-masing. Namun ada satu ucapan adikku yang kemudian menjadi bahan renungan, “Makanya harus memerdekakan diri sendiri dulu.” Ucapan itu penuh makna bahwa terkadang tanpa sadar terkadang kita belum bisa merdeka dari belenggu yang mungkin kita ciptakan sendiri sehingga menghambat untuk berbuat lebih baik dan lebih banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...