Kamis, 20 Agustus 2009

Panggilan Sayang

Saat kesal dengan murid-murid yang bandel, sering keluar ucapan tertentu untuk mereka. Bukan kata yang berasal dari nama-nama hewan tentu saja. Aku sering menambahkan kata honey di belakang kalimat perintah yang diucapkan dengan suara yang lebih kuat dari biasanya, misalnya, “Hei listen, Honey!”, “Jangan tidur dong, Honey!”, “Open your book, Honey!”, dan sebagainya. Bahkan aku sering berlebihan dengan menyebutkan honey bunny sweety darling di awal maupun di akhir kalimat, tujuannya agar menarik perhatian mereka tanpa menyakiti perasaan.


Panggilan honey sebenarnya tidak ditujukan ketika aku kesal saja, beberapa temanku pernah ada yang aku panggil dengan honey, sweety, dan darling untuk mengakrabkan suasana. Aku juga punya panggilan khusus untuk adik-adikku, Mul untuk adik perempuanku dan Bi2 untuk adik laki-lakiku..

Dulu, aku pernah dipanggil dengan sebutan ibu guru padahal saat itu belum jadi ibu guru, pernah juga dipanggil ummi, sister in law, dan sister. Sedangkan sekarang ada yang memanggilku dengan say, bunda, teteh, dan cici’. Dan memang hanya orang-orang tertentu saja yang memanggilku demikian. Dari semua itu, aku paling tidak suka dipanggil dengan sebutan Jeng karena jadi teringat dengan Jeng Kelin.

Merdeka (catatan 17 Agustus)

Angin berhembus kencang diiringi tumpahan hujan darikangit yang diliputi awan gelap tak menyurutkan keinginan mama untuk ikut upacara bendera 17 agustus dan dengan setia papa mengantar mama ke lapangan upacara.
Sementara itu tinggallah aku dan adik laki-lakiku sedangkan adik perempuanku masih KKN disebuah desa.

Di pagi yang dingin itu, aku dan adikku terlibat perbincangan ringan yang kemudian berubah menjadi berat. Di depan televisi yang menyala kami berdebat seru tentang apakah bangsa ini sudah merdeka atau belum. Kami memiliki perbedaan sudut pandang dalam mengemukakan pendapat. Adikku menganggap bangsa ini sudah merdeka tapi menurutku belum. Memang fakta berbicara bahwa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan Belanda maupun Jepang secara fisik tapi entahlah aku merasa ada yang janggal karena sebenarnya kemerdekaan ini siapa yang punya? Apa gunanya merdeka jika banyak rakyat yang masih menderita, banyak pengusaha yang semena-mena, banyak pejabat yang menjadi budah nafsu serakah, apa lagi ketika teroris menghantui jiwa, negara lain memandang dengan sebelah mata, dan uang menjadi penguasa. Memang menyukuri apa yang didapat lebih baik daripada menyesali apa yang luput tapi sampai kapan berpuas diri dalam kelemahan dan keterbatasan?

Setelah debat kusir singkat itu, aku dan adikku menjaga jarak beberapa jam karena ternyata kami belum bisa menguasai ego masing-masing. Namun ada satu ucapan adikku yang kemudian menjadi bahan renungan, “Makanya harus memerdekakan diri sendiri dulu.” Ucapan itu penuh makna bahwa terkadang tanpa sadar terkadang kita belum bisa merdeka dari belenggu yang mungkin kita ciptakan sendiri sehingga menghambat untuk berbuat lebih baik dan lebih banyak.

Sabtu, 08 Agustus 2009

KATA MEREKA


Setiap orang akan memiliki sudut pandang yang berbeda dalam ‘membaca’ kepribadian seseorang. Akan ada yang suka dan ada yang tak suka. Tidak bisa juga dipaksakan agar semua orang menyukai kita. Jadi, terima saja pendapat orang lain tentang kita, pastinya hanya kita yang tahu siapa kita sebenarnya.

Lalu, apa kata mereka tentang diriku? Ternyata pendapatnya beragam dan ini pun hanya sebagian kecil pendapat tentang diriku dari orang-orang yang tergabung dalam sebuah komunitas.

Kata A, aku adalah orang yang baik.

Kata B, aku adalah orang yang lucu dan riang.
Kata C, aku adalah orang yang dewasa, baik, suka becanda tapi suka nyindir.
Kata D, aku adalah orang yang tepat waktu, patut dicontoh tapi agak cerewet.
Kata E, aku adalah orang yang ramah tapi terkadang sensitif.
Kata F, aku adalah orang yang kurang berani berpendapat.
Kata G, aku adalah orang yang lebai.
Kata H, aku adalah orang yang lucu, aneh, dan kadang-kadang menggebu-gebu.
Kata I, aku adalah orang yang penuh humor.
Kata J, aku adalah orang yang baik, ramah, santun, dan keibuan.
Kata K, aku adalah orang yang sulit dimengerti, saat berbicara suka dalam dan ketus.
Kata L, aku adalah orang yang bijaksana dan ceria.
Kata M, aku adalah orang yang baik dan enak dijadikan teman.
Kata N, aku adalah orang yang baik tapi cerewet dan terkadang suka sensitif.
Kata O, aku adalah orang yang rame dan ramah tapi kadang-kadang suka jayus.
Kata P, aku adalah orang yang ceria, ramah, narsis, dan lucu tapi terkadang suka bad mood.
Kata Q, aku adalah orang yang kurang gigih berjuang.
Kata R, aku adalah orang yang menel.
Kata S, aku adalah orang yang lucu, baik, menyenangkan tapi cerewet.

Hmm... pendapat mereka cukup beragam bukan? Mulai dari yang sangat suka, suka, tidak suka, sampai sangat tidak suka. Apapun yang mereka katakan mungkin sesuai mungkin juga tidak tapi itulah hasil mereka ‘membaca’ diriku saat kami berinteraksi. Ya bagaimanapun aku ucapkan terima kasih masih mau berinteraksi denganku bahkan menerima aku apa adanya.

Kemudian, kira-kira apa ya kata teman-teman kuliahku yang sekarang? Apa kata teman-teman aku mengajar? Pastinya ada pendapat yang baru dari mereka. Hehe...

So, bagaimana pendapat Anda? Bagaimana juga dengan pendapat yang lain tentang diriku? Silakan saja berbeda.

Minggu, 02 Agustus 2009

Cinta


manis
asem
asin
pahit
kata siapa?


Hari Ini



hari ini aku menemukan lagi bahwa setiap orang akan memiliki sudut pandang yang khas dalam membaca sesuatu..
aku jatuh cinta pada hari ini karena hari ini memberikanku banyak hal..
menambah keyakinan cintaku yang semakin redup..
hari ini aku menemukan diriku yang lain..
terimakasih untuk orang-orang yang mau menerimaku sebagai sosok yang berbeda dari biasanya..

Beberapa hal yang perlu dketahui untuk Mencegah Stunting

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun, Pagi yang indah di hari Selasa, tanggal 12 September 2017, Direktorat Kemitraan Komunikasi K...