Senin, 11 Mei 2009

Tak Sama (catatan 9 mei)

Hari ini tak seperti tanggal yang sama tahun lalu.Tahun lalu di tanggal yang sama aku menulis sebuah puisi namun kali ini aku tak menulis sebait puisi pun. kenapa?entahlah,sepertinya aku butuh 'cuci otak'.

Aku merasa sudah tua tapi sepertinya sulit sekali merubah pola pikir dan tingkah laku jadi lebih dewasa. Ada beberapa hal yang tahun ini harus aku selesaikan dan ada beberapa target yang harus aku capai, beban itu terasa semakin berat. Terkadang tak sanggup rasanya melewati selangkah demi selangkah perjalannan ini karena hati dan pikiranku masih bersifat duniawi semata. Keinginan utuk dipuji dan tak henti mencari popularitas memang tak bisa dipungkiri. Indikator keberhasilan masih diukur dengan materi.


Hari ini tak seperti tanggal yang sama tahun lalu.


Nasihat yang ibu berikan agak berbeda. Pagi ini, di dapur, setelah aku mencium tangannya, ibuku mengingatkan soal umurku yang sudah seharusnya menikah lalu menanyakan kapan aku menyelesaikan kuliah. Agak sedikit berbeda dalam penyampaian, ayahku pagi ini memintaku untuk segera menyelesaikan kuliah, setelah itu baru mempertanyakan kapan aku menikah.


Hari ini tak seperti tanggal yang sama tahun lalu.


Tak banyak SMS yang kuterima, bahkan tak ada seorang pun yang menelpon di hari ini. Keadaan sudah banyak yang berubah. SMS pertama kuterima dari “Fe”, seorang teman yang kukenal beberapa tahun lalu di tempat les. Dialah yang dalam tahun ini dua kali kehilangan HP. Melalui SMSnya dia bilang: “May Allah always guide you in every single your breath inhale.” (artinya apa ya?)

Kemudian SMS dari Umi “E”, seorang temanku yang kini tinggal di Yogyakarta, aku sempat kehilangan kontak dengannya selama beberapa tahun. Ia berharap semoga aku semakin cantik, sholeh, dan segera dapat jodoh. Selanjutnya dari Umi “I”, seorang sahabat yang sebentar lagi jadi nyonya pejabat. Dia berharap semoga Allah memberkahi hidupku dan mewujudkan cita-citaku. (amin)

Hari ini tak seperti tanggal yang sama tahun lalu.

Seorang sahabatku “Ir” mengajak untuk menghabiskan waktu bersamanya karena besok ia akan pulang ke kampung halamannya selama sebulan. Akhirnya pagi-pagi aku sudah mengunjungi toko buku, berkeliling dan melihat-lihat. Di lantai dasar ada diskon buku, harganya berkisar 7.500-12.500 rupiah. Lumayan buat nambah bacaan, aku memutuskan untuk membeli beberapa buku. Ada juga diskon buku-buku tentang internet dan computer yang didiskon 10% tapi hari ini aku tidak banyak membawa uang.

Di lantai dua, tanpa kuduga berjupa dengan Umi “Di”, seorang rekan kerja yang belum lama kukenal namun telah berhasil membuatku merindukannya karena seminggu tak berjumpa. Perbincangan kami sangat singkat tapi tetap saja topik nikah tak terlewat. (uh!) Lalu aku bertemu dengan Pak “A”, teman kuliah di MIP, orang membuatku kagum karena kecerdasannya tapi aku belum bisa mencontoh semangatnya dalam menyelesaikan tesis. Baik Pak “A” maupun Umi “Di” sama-sama tak bersama pasangan mereka. Umi “Di” pergi seorang diri sedangkan Pak “A” bersama reka kerjanya. Katanya sih terkadang seseorang yang sudah menikah juga menginginkan waktu untuk sendiri atau berkumpul bersama teman-temannya.

Di toko buku aku juga bertemu dengan tiga orang muridku. Tidak seperti biasanya, hari ini mereka tidak pulang kampung padahal biasanya mereka selalu menunggu tanggal merah agar mereka bisa bersantai di rumah.

Hari ini tak seperti tanggal yang sama tahun lalu.

Seharian aku bersama “Ir”, melihat-lihat buku, makan, dan nonton pameran mumi bahkan dia sempat menanyakan tanggal berapakah hari ini. Namun kesal yang kurasa karena dia hanya seperti biasanya. Sangking kesalnya aku bertingkah tak biasa, tak banyak yang kuceritakan, aku hanya banyak diam, sesekali tersenyum, dan berkata ya atau tidak. Sampai aku turun bis pun, dia masih seperti biasanya.

Jika dia bukan sahabatku, mungkin aku tak meminta perhatian lebih. Karena begitu kesal, aku mengirim SMS padanya, minta untuk didoakan. Lalu dia pun membalas, sepertinya dia benar-benar lupa.

Hari ini tak seperti tanggal yang sama tahun lalu.

Tahun lalu, pada tanggal yang sama seperti hari ini, “Re” sempat berpikir dialah orang pertama yang menghubungiku namun hari ini dia tidak menelponku, hanya mengirimkan SMS padaku, tak seperti biasanya. Mungkin dia tak punya pulsa atau mungkin sedang belajar setiakarena dia kini tak sendiri lagi J

Lalu “L” yang tak seperti biasanya sibuk minta traktir sejak beberapa hari yang lalu dan “Ic” yang sedang gemar bercengkrama dengan dunia maya memilih media FB untuk menyampaikan perhatiannya padaku.

Hari ini memang berbeda dan memang harus berbeda karena dengan perbedaan itulah yang menandakan kehidupan itu ada, bergerak, tidak statis. Hari ini tak sama dan tak kan pernah sama tapi dengan begitu aku mengeti bahwa hidupku lebih bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...