Minggu, 15 Maret 2009

Kelas Puisi Edisi Bakso

Kepada teman-temanku yang ikutan kelas puisi edisi bakso aku minta maaf atas keterlambatanku melaporkan kejadian sebulan yang lalu. Aku akui aku sudah lupa kejadian detailnya tapi kesimpulan yang dapat aku ambil bahwa belajar puisi di warung bakso bukan ide yang buruk. Hari itu ada aku, desma, ira, lia, jams, dan pak Edi yang kumpul untuk belajar puisi. Kami saling membaca dan memuji puisi yang dibuat bahkan ada yang buat puisi dadakan yang menurutku kurang puitis. Hehe...
Sebenarnya puisi aku juga sedikit membingungkan meski aku sudah berusaha beberapa menit sebelum pergi, berusaha berkonsentrasi membuat puisi yang bagus. Haha.. ketauan deh kalo ngerjain PR puisinya dadakan.

Berkenaan dengan situsi sih menurutku gak ada yang istimewa soalnya aku kan datang telat jadi gak terlalu memperhatikan keadaan sekeliling. Yang jelas posisi warung yang di depan jalan raya cukup bising meski jalanan lengang di hari minggu. Lalu agak segan juga berlama-lama di warung bakso meski gak kan ada yang ngusir apalagi kami juga beli bakso di warung itu. Kemudian kayaknya posisinya duduk yang kami ambil juga salah tapi secara keseluruhan suasananya kondusif karena kami bisa ngobrol santai tentang hal yang lain juga. Ada beberapa ingatan yang cukup kuat dalam memoriku tentang pelayan warung bakso yang nyuekin kami karena gak pesen-pesen, ada yang gak enak hati kalo gak ikutan makan bakso akhirnya pesen juga, kenyataan bahwa gara-gara nungguin kami kumpul kelamaan ada yang sampe sarapan dua kali, ada yang pesen bakso tapi ada akarnya, ada yang buat puisi tentang es jeruk, ada yang buru-buru makan bakso karena mau kondangan, dan yang lebih sedikit tragis ada yang kapok belajar puisi di warung bakso karena bikin tabungan jebol. Meski demikian secara keseluruhan kelas puisi edisi bakso oke banget sebagai sarana ebih mempererat hubungan kami sesama pecinta puisi.

Demam facebook

Beberapa kali aku membaca salah satu koran daerah Lampung, aku menemukan kolom yang membahas tentang facebook. Ada yang mengulas tentang olahraga jari ala facebook bahkan kemungkinan Cinta Lama Bersemi Kembali alias CLBK gara-gara facebook. Aku sempat berpikir, jangan-jangan memang sedang terjadi wabah demam facebook.
Aku sih baru ikutan facebook, itu juga karena seorang teman mengajakku, awalnya aku sempat ragu mengingat kayaknya gak ada manfaatnya tapi setelah temanku itu meyakinkanku bahwa ada kemungkinan menemukan teman-teman lama melalui media ini. Lalu aku pun ikutan dan ternyata aku memang menemukan beberapa teman lamaku. Reaksiku cukup berlebihan karena rasanya seneng banget meski hanya ngeliat wajah teman-temanku yang sudah lama tak kujumpai itu. Yang membuatku semakin girang karena akhirnya aku bisa berkomunikasi lagi dengan seorang sahabatku di SMA yang tenyata sudah punya dua orang anak yang lucu-lucu.
Senang sungguh aku akui tapi agak sedikit sebel juga karena memori lama mulai terkuak lagi, hal-hal yang tadinya ingin dilupakan jadi teringat kembali. Tapi mau gimana lagi, manusia hidup kan akan terus membawa masa lalu, selalu berusaha menghadapi masa sekarang, dan tak henti mempersiapkan masa depan. Aku sempet agak kaget juga karena ternyata ada fakta yang baru aku sadari sekarang, yang membuatku sedikit malu tapi akhirnya aku Cuma bisa berkata pada diriku bahwa itu hanyalah masa lalu.
Selain bisa ketemu temen lama, media ini juga dianggap berguna untuk publikasi diri, menunjukkan siapa kita dan teman-teman kita dan begitulah faktanya tapi kadang jengkel juga melihat kenyataan bahwa media ini hanya digunakan untuk mencari sensasi, menarik perhatian orang dengan cara mengungkapkan fakta-fakta yang sebenarnya hanya fiktif belaka. Ah, apapun itu, semoga facebook tidak membuat orang kecanduan ngenet sampe lupa waktu dan lupa diri.

Sekolah ke bulan

Sekolah ke luar negeri? Keinginan sekolah di luar Lampung aja aku kubur dalam-dalam tapi kok sekarang muncul hasrat ingin sekolah ke luar negeri. Mungkin ini karena perbincangan singkat aku, teman kuliahku, dan kenalan baruku di depan ruang kuliah jumat yang lalu. Aku sempat takjub karena kenalanku itu ternyata pernah sekolah di Belanda dan dengan gamblang ia menyatakan keinginannya kembali ke sana untuk sekolah lagi. Bahkan aku lebih tercengang lagi karena teman kuliahku tetap menyimpan semangat untuk kuliah S3 di luar negeri walaupun suaminya gak terlalu setuju mengingat ia sudah punya dua orang anak.

Sekolah ke luar negeri mungkin seperti bermimpi sekolah ke bulan. Apa mungkin? Apa aku bisa? Bahasa Inggrisku aja gak bagus ditambah lagi pasti sulit mendapatkan izin orangtua. Tapi kalau dipikir-pikir memang gak ada salahnya untuk bermimpi atau menyimpan hasrat yang sangat kuat terhadap suatu pengharapan. Masalahnya ketika kita punya suatu keinginan, sudah seberapa besar usaha yang dilakukan dan sudah berapa langkah tahapan yang dilalui untuk meraih keinginan itu. Aku jadi berpikir mungkin banyak keinginanku yang tak terwujud akibat aku tak pernah berusaha maksimal. Aku juga jadi bertanya-tanya, usaha-usaha maksimal apa yang pernah aku lakukan demi mewujudkan suatu keinginan.

Beberapa hal yang perlu dketahui untuk Mencegah Stunting

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun, Pagi yang indah di hari Selasa, tanggal 12 September 2017, Direktorat Kemitraan Komunikasi K...