Sabtu, 03 Januari 2009

VIRUS RAMAL

Aku pernah Praktek Kerja Lapangan (PKL) di sebuah kantor kecamatan. Tidak ada yang berbeda dari kantor pelayanan publik pada umumnya. Ada pegawai yang sibuk, ada yang nyantai, ada yang rajin, ada yang malas, bahkan ada yang datang ke kantor hanya saat gajian. Suatu ketika aku sedikit terperangah kedatangan pegawai yang sangat jarang masuk kantor, dia datang kalau dia mau saja. Enak banget kan? Meski demikian para pegawai lainnya tampak segan terhadapnya. Kemudian aku tahu bahwa selain sebagai PNS, ia juga berprofesi sebagai paranormal.

Di sebuah ruangan dia duduk bersebrangan dengan tempatku duduk. Lalu ada dua orang tamu berbadan besar, berkulit gelap, menghampirinya dan mereka pun berbincang sebentar. Setelah itu ada seorang pegawai wanita yang meminta untuk diramal kemudian aku ditawarkan untuk turut diramal tapi aku menolak dengan diam dan senyuman. Aku tak tertarik tapi sepertinya dia berusaha memancing perhatianku dengan mengatakan bagaimana karakter aku dan perasaanku saat itu. Dan semuanya benar tapi aku tetap tidak tertarik. Ia mulai mengeluarkan rayuan dengan mengatakan bahwa ia biasa meramal nasib orang dan itu bagian dari usaha untuk menghindari kesialan. Lalu ia meminta tanganku untuk diramal. Aku tetap bilang tidak.

Mungkin dia sedikit heran denganku yang tak berminat untuk diramal. Dia terus bercerita tentang aktivitas paranormalnya. Kemudian dia mengatakan bahwa jangan percaya perkataan dengan teman PKL ku yang duduk disampingku karena dia pintar merayu. Tanpa sadar aku mempercayainya dan celakanya aku mulai menghindari temanku itu. Ya itulah jebakan ramalan, aku memang tetap tak mau diramal tapi aku telah percaya dengan ucapannya yang mungkin benar mungkin juga tidak. Astaghfirullah.

Di zaman yang katanya modern ini makin banyak orang yang percaya pada ramalan. Sepertinya manusia sudah tak takut lagi azab Tuhan. Ramalan dianggap hal yang diperbolehkan, apalagi dengan gencarnya iklan-iklan ramalan diberbagai media. Padahal kata Walter Benjamin (1892-1940) bahwa orang yang menayakan masa depannya kepada peramal tanpa disadari ia akan kehilangan firasat batinnya tentang berbagai peristiwa di masa depan yang seribu kali lebih tepat daripada apapun yang dikatakan peramal.


Dalam Islam jelas meramal atau minta diramal merupakan salah satu jenis menyekutukan Allah. Hal tersebut merupakan dosa besar yang tak akan terampuni sampai ia bertobat. Allah berfirman:

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (Q.S. An-Naml:65)

Jika percaya Allah yang menguasai seluruh jagad raya ini, mengapa percaya pada selain Allah yang nyata-nyata memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan? Alangkah bodohnya jika dengan senang hati ditipu syetan melalui para pengikutnya (baca: peramal). Ketika ramalan itu berupa hal yang baik sudah tentu akan membuat mereka tersanjung dan lengah dan saat ramalan itu berupa hal yang buruk akan membuat mereka tersiksa dan kecewa. Ramalan itu bisa membuat orang fokus pada apa yang diramalkan dan melupakan hal lainnya dan itu akan menjadi senjata makan tuan bagi diri sendiri.

“Ya Allah, kami mohon perlindungan kepada-Mu agar kami tak menyekutukan-mu dengan sesuatupun yang kami mengetahuinya dan mohon ampunan kepada-mu dari yang tak kami ketahui.” (H.R. Ahmad)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...