Sabtu, 03 Januari 2009

Monyet dan Kacang Polong

Seorang monyet sedang membawa 2 genggam kacang polong. Sebutir kacang polong kecil jatuh dari genggamannya. Ia mencoba memungutnya tetapi malah menjatuhkan 20 butir kacang polong. Ia mencoba memungut kedua puluh kacang polong itu, tapi ia malah kehilangan semua kacang polong yang ada di genggaman tangan kanannya kemudian ia kehilangan kendali amarahnya, menyerakkan seluruh kacang polong yang tersisa ke segala arah dan pergi. (Fables, Leo Tolstoy 1828-1910)

Tanpa disadari terkadang apa yang dilakukan monyet dalam cerita tadi, dilakukan juga oleh manusia,yang lebih sempurna dari monyet. Tidak ada salahnya tak ambil pusing dengan apa yang luput dari genggaman. Tak perlu menangisi kegagalan samapai mata sembab, tak perlu banyak makan untuk menghilangkan stres, tak perlu melakukan hal-hal berlebihan yang malah akan memperburuk keadaan.

Katakan saja bahwa aku rela hari ini 1 keberuntunganku luput tapi aku masih memiliki banyak keberuntungan dalam genggaman dan akan kujaga itu. Semoga lain waktu aku memperoleh keberuntungan yang lebih banyak dari sekarang.

Memang tak dapat dipungkiri, rasa iri akan datang saat melihat orang lain mendapatkan dengan mudah apa yang mereka inginkan. Tapi bukankah Allah Maha Adil? Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-nya. Kegagalan tidak akan membunuh kita jika kita tahu bagaimana menyikapinya. Ketika kehilangan keberuntungan untuk apa menjadi monyet yang menyerakkan semua keberuntungannya karena marah terhadap keadaan.

1 komentar:

  1. andaikan manusia paham bahwa Allah itu Maha adil..

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...