Sabtu, 03 Januari 2009

Lumba-lumba I

Saat kuliah S1 dulu, aku pernah ikut pelatihan analisis sosial politik. Di salah satu sesi, pemateri meminta peserta untuk mengidentifikasikan dirinya dengan 1 benda. Salah seorang temanku mengidentifikasikan dirinya sebagai lilin, ia rela memberi cahaya kepada sekelilingnya meski ia sendiri meleleh. Hebat banget dia, rela berkorban untuk kebahagian orang lain.

Kala itu saya bingung tapi kemudian terlintas dalam pikiran tentang lumba-lumba. Dengan sedikit mengarang indah ku ungkapkan alasan mengapa aku mengidentifikasikan diri seperti lumba-lumba. Aku katakan bahwa lumba-lumba itu lucu, cerdas, ramah, dan menyenangkan sepertiku. Haha.... Tapi beberapa peserta lainnya tertawa sepertinya mereka mengejekku, kemudian aku tersadar lumba-lumba kan gemuk kayak badanku. Uh, padahal kan aku tidak bermaksud mempermalukan diri sendiri. 

Tanpa sengaja, setelah sekian lama tak jumpa, akhirnya aku bertemu dengan salah satu peserta pelatihan itu. Saat kami bertukar nomor telepon, ketahuan deh kalau dia lupa siapa namaku.

“Maaf mbak, saya hanya inget mbak lumba-lumba.”

Oh no. Ternyata icon lumba-lumba itu melekat dalam diriku. Walaupun tahun telah berganti aku masih tetap cerdas, ramah, menyenangkan, dan ndut. Hehe...

Nah, ini sedikit tips untuk teman-teman yang ingin diingat orang. Jadilah orang yang lain daripada yang lain. Jadikan diri kamu lebih berwarna-warni dan lebih misterius daripada orang lain yang membosankan dan pemalu. Tapi jangan menjadikan dirimu diingat sebagai orang yang menyebalkan dan memalukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...