Selasa, 23 Desember 2008

Pernikahan

Pasca Idul Adha adalah masanya perhelatan pesta pernikahan. Tumpukan undangan membuat bingung mana yang harus didatangi karena waktunya bersamaan, Dompet pun mengeluh karena isinya terkuras habis untuk ngasih angpau atau sekedar patungan beli kado, bahkan supir angkot iut pusing karena banyak jalan ditutup karena dipakai untuk pesta.

Banyak kisah seru yang tertinggal, mulai dari acara akad nikah yang berkurang kehidmatannya karena pembawa acara yang tidak profesional atau penghulu yang tiba-tiba menjadi grogi. Ada juga yang maskawinnya ketinggalan. Yang bikin malu sohibul hajat adalah katering yang tidak bertanggung jawab yang menyuguhkan makanan yang rasanya tidak enak atau bahkan banyak tamu yang tidak kebagian makanan. Lalu ada keluarga besan yang tercengang karena melihat resepsi pernikahan yang aneh. Hujan pun sepertinya enggan diajak kompromi membuat jalanan becek sampai ada yang terpeleset. Kemudian yang tidak kalah serunya adalah para lajang yang sudah cukup umur tapi belum juga menikah. Tiba-tiba telinga mereka memerah, mulut mereka terkunci, kepala mereka pusing, dan perut mereka terasa mual akibat serangan pertanyaan kapan menikah. Dan dalam hati hanya bisa berdoa: “Ya Allah Aku berlindung kepada Mu dari kejahatan (yang timbul) dari pendengaranku, penglihatanku, hatiku, dan gejolak syahwatku.”

Seorang teman saya yang sudah menjadi bapak cukup lama berkata pada saya bahwa seharusnya pengantin pria turut menangis karena saat menikah merupakan penyerahan tanggung jawab dari seorang ayah kepada suami anak perempuannya. Jadi seharusnya jika sudah berumah tangga jangan lagi merepotkan orangtua seperti pemekaran wilayah. Pemerintah pusat seharusnya tidak memanjakan daerah yang akan dimekarkan dengan memberikan bantuan dana karena logikanya daerah yang dimekarkan memang sudah layak untuk mandiri, berpisah dari daerah induk. Yah namanya juga orangtua, biarpun sudah menikah, kucuran dana masih deras mengalir. Kalau memang dananya ada ya gak apa-apa sih tapi yang penting jangan sering-sering. Hehe...

Menikah itu tujuannya adalah membangun keluarga yang sakinah mawaddah warohmah dan bukan sekedar slogan. Menikah itu tidak hanya menyatukan dua orang tapi juga dua keluarga besar. Buat yang belum menikah seperti saya, nyantai aja Jakarta masih menjadi ibukota Indonesia kok dan bagi yang baru menikah, belajarlah untuk saling mengerti agar proses adaptasi berjalan lancar. Lalu menurut seorang teman yang sudah cukup lama juga menjadi ibu berkata pada saya sebaiknya jika sudah berumah tangga prioritas utama adalah membangun rumah. Bener juga sih mengingat banyaknya kasus orang-orang yang tidak mau meninggalkan rumah dinas. Terakhir, bagi yang anti menikah, ya terserah aja kalau kuat menghadapi laknat Tuhan. Bukankah setiap keputusan ada resikonya? Hidup adalah pilihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...