Sabtu, 29 November 2008

Ibu

Hamparan kasihmu menjadi jalan bagiku
Hembusan sabarmu menjadi penyejukku
Dalam diammu ada doa
Dalam kerasmu ada hikmah
Sungguh gunung tak kan kuasa berbohong akan ketegaranmu
Sungai pun tak mampu menghanyutkan kebulatan tekadmu
Kau telah menjadi tembok sakitku
Menjaga diri ini dari hitamku

21 nop 2008

(puisi ini dibuat serta merta dalam suatu pelatihan bagaimana mengoptimalkan otak. Saat workshop di salah satu sesi, kami diminta untuk membuat puisi dengan menghubungkan kata ibu dan batu. Dengan menggunakan teknik mind mapping, jadilah puisi tersebut. Puisi ini menurutku biasa namun menjadi luar biasa karena pujian yang keluar dari salah satu guru matematikaku saat SMP yang kebetulan ikut pelatihan juga. Pujian itu mengembalikan rasa percaya diriku yang sempat hilang beberapa hari yang lalu. Dia berkata, “Kamu dulu boleh mengagumi saya tapi sekarang saya mengagumimu karena puisi itu.”)

2 komentar:

  1. yup benar, semoga mulai hari ini dan seterusnya kita bisa memuliakan seorang ibu...
    dan ibu mertua jagu tentunya jika sudah waktunya... :)

    BalasHapus
  2. Ibu,ibu,ibu.... Sungguh merugi jika di telapak kakinya tak kita dapat surga-Nya

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...