Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari November, 2008

Ibu

Hamparan kasihmu menjadi jalan bagiku
Hembusan sabarmu menjadi penyejukku
Dalam diammu ada doa
Dalam kerasmu ada hikmah
Sungguh gunung tak kan kuasa berbohong akan ketegaranmu
Sungai pun tak mampu menghanyutkan kebulatan tekadmu
Kau telah menjadi tembok sakitku
Menjaga diri ini dari hitamku
21 nop 2008
(puisi ini dibuat serta merta dalam suatu pelatihan bagaimana mengoptimalkan otak. Saat workshop di salah satu sesi, kami diminta untuk membuat puisi dengan menghubungkan kata ibu dan batu. Dengan menggunakan teknik mind mapping, jadilah puisi tersebut. Puisi ini menurutku biasa namun menjadi luar biasa karena pujian yang keluar dari salah satu guru matematikaku saat SMP yang kebetulan ikut pelatihan juga. Pujian itu mengembalikan rasa percaya diriku yang sempat hilang beberapa hari yang lalu. Dia berkata, “Kamu dulu boleh mengagumi saya tapi sekarang saya mengagumimu karena puisi itu.”)

Partai Politik, Kemarin, Hari Ini, dan Esok

By: Lilih Muflihah Partai politik dari masa ke masa mengalami perkembangan meskipun belum dapat dianggap perkembangan yang terjadi mengarah pada hal yang positif. Pada awal kemerdekaan, partai politik belum berperan secara optimal sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi politik rakyat. Hal ini terlihat dari timbulnya berbagai gejolak dan ketidakpuasan sekelompok masyarakat yang merasa aspirasinya tidak terwadahi dengan melakukan gerakan-gerakan separatis kedaerahan. Pada fase berikutnya dalam sejarah perjalanan bangsa yaitu masa Orde Lama, peran partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi politik rakyat juga belum terlaksana sesuai dengan yang diharapkan. Partai politik cenderung terperangkap oleh kepentingan partai dan bukan kepentingan rakyat secara keseluruhan. Sebagai akibat daripadanya adalah terjadinya ketidak stabilan sistem kehidupan politik dan kemasyarakatan yang ditandai dengan berganti-gantinya kabinet. Di zaman Orde Baru, partai politik dalam kehidupan berbangsa ditat…

Pemilihan Kepala Daerah Langsung

By: Lilih Muflihah Praktek penyelenggaraan pemerintahan daerah saat ini tak habisnya dibicarakan khususnya pemilihan kepala daerah langsung yang akhir-akhir ini diselenggarakan diberbagai daerah di Indonesia. Ada beberapa variasi yang lazim dilaksanakan di berbagai negara dalam mekanisme pemilihan kepala daerah yaitu kepala daerah dapat dipilih secara langsung oleh masyarakat, dipilih oleh dewan, ataupun diangkat oleh Pemerintah Pusat. Pemberian wewenang dari Pusat ke Daerah atau yang sering disebut sebagai otonomi daerah merupakan salah satu faktor pendorong ide pemilihan langsung. Dengan pemilihan secara langsung kepala daerah akan terikat secara moral, ideologis, dan politik terhadap harapan dan tuntutan masyarakat. Pemilihan kepala daerah secara langsung dinilai lebih demokratis ketimbang cara-cara lainnya di mana rakyat dapat terlibat langsung dalam pemilihan dan terkesan lebih obyektif. Harapan lain adalah dengan pemilihan langsung dapat memperkecil peluang politik uang namun sep…

Aku dan Masalah

Masalah ini begitu rumit dan kompleks hingga aku tak kuasa mencari solusi, hingga tak tahu harus bagaimana sampai aku tak mengenal lagi siapa aku. Masalah ini membuatku tersiksa hingga membuntukan pikiran jernihku, hinggamengganggu kreatifitasku sampai aku letih menata hatiku. Aku semakin tersiksa kala aku tak kuasa lagi merangkai kata bahkan sekedar untuk menggerakkan pena untuk mengungkapkan perasaanku. Aku hilang akal terjebak dalam diriku. Aku merasakan perasaan yang salah, melakukan hal yang salah, dan bersikap yang salah. Celakanya aku sudah tahu salah tapi tak bisa menghentikan yang salah itu. Bahkan kata-kata bijak yang pernah kuungkapkan menjadi siksaan yang luar biasa karena diriku tak berdaya untuk memperbaiki yang salah.Aku sungguh merasa tak berguna, pikiranku pun menjadi buntu. Hatiku begitu hancur. Pilu telah mengahantarkan sakit begitu dalam. Inginku seorang membantu namun curhatku terasa hambar karena banyak kata yang bersembunyi. Lelah begitu merajai, mendesak marah k…

Ingin Ku Tak Ingin

-->
By: Lilih Muflihah
Ingin kuusir ramai tapi sepi begitu angkuh Ingin kurangkul rasa tapi hati begitu resah Ingin kugapai nyata tapi mimpi begitu tinggi Ingin ku tak ingin Erat genggaman lepas dari tangan Lekat menatap luput dai pandangan Rapat tersimpan perlahan terkuak Jauh berlari masih kembali Ingin ku tak ingin Ingin kuucap kata tapi bibir begitu kelu Ingin kuhempas duka tapi suka begitu hampa Ingin kugoyah benci tapi cinta begitu rapuh Ingin ku tak ingin Berpisah rindu rasa harap berlalu asa Terbang sayap tak rela mengepak Mendarat lelah di lautan pekat Berenang kemudian tenggelam (Januari 2008)

Wajah Kaki

-->
By: Lilih Muflihah
Kaki-kakiku berjalan Wajah-wajah pun memandang Perlahan tapaki waktu Mencari langkah-langkah misteri
Kaki-kakiku berhenti Wajah-wajahpun bias Perlahan jauhi diri Hindari jejak-jejak diri
Kaki-kakiku berlari wajah-wajah pun merona Tak perlahan lagi tapi masih pasti Berlari mengejar mimpi
Ini hanya wajah kaki yang langkahnya menuju hari Datang lalu pergi Menjauh kemudian kembali
Ruang Kuliah MIP, 090508, 15:15

Presiden Kampus

By: Lilih Muflihah

Mungkin kalau dihitung, sudah lebih dari tiga puluh orang yang berlalu lalang di depanku. Aku, Elin, dan Ika duduk termangu di pinggir serambi pintu masuk gedung D Fakultas Hukum, menunggu dosen pembimbing kami yang tak kunjung datang. Mungkin targetku untuk meyelesaikan skripsiku 2 bulan lagi bakal kandas karena sampai saat ini aku belum turun lapang. Dosen pembimbing kami cukup sibuk dengan berbagai kegiatan, aku maklum tapi tak terpikirkah ia memperhatikan skripsi kami sebentar saja.
Risa tampak keluar dari gedung menuju ke tempat kami duduk.

“Pak Sogi ke Jakarta, mungkin sebulan,” ucap Risa memberitahu. Ia memang lebih beruntung, pembuatan skripsinya bebas hambatan.

“Selamat Anda beruntung memiliki satu bulan kebebasan,” ucap Elin sambil menghela nafas panjang. Dia tampak kecewa sama sepertiku sedangkan Ika tak bergeming, raut wajahnya tak berubah.

“Tenang saja, kita masih punya kesempatan dua setengah tahun lagi untuk kuliah di sini,” ucap Ika santai.

Semua ini…

TAK KAN SEKEDAR MUNGKIN

Kita tak kan menangkap yang kita mau jika tak mengejarnya.
Kita tak kan menemukan yang hilang jika tak mencarinya. Kita tak kan menikmati manisnya perjuangan jika tak mencicipinya. Mungkin kita di takdirkan menempuh jalan berliku. Namun sejauh ini kita telah berhasil melewati jalan sebelumnya dengan sukses. Mungkin kita hanya kurang berkemauan kuat. Mungkin kita harus lebih bekerja keras. Mungkin kita perlu memperbaiki keteguhan hati. Namun ini tak kan sekedar mungkin. (Lilih Muflihah, 26-11-08)

Pilu

By: Lilih Muflihah

Rembulan sembunyi di balik selimut abu-abu
Bintang malu enggan bertemu
Hanya hamparan langit setia membentang haru
Gelap ringan menyapa sunyi biru
Angin lembut sentuh dingin beku
Sisa hujan coba temani daun kalbu
Sementara malam berdendang sahdu
Kata terhadang kelu
Air mata pun terhempas ragu
Karena hati tak mampu merayu