Sabtu, 29 November 2008

Ibu

Hamparan kasihmu menjadi jalan bagiku
Hembusan sabarmu menjadi penyejukku
Dalam diammu ada doa
Dalam kerasmu ada hikmah
Sungguh gunung tak kan kuasa berbohong akan ketegaranmu
Sungai pun tak mampu menghanyutkan kebulatan tekadmu
Kau telah menjadi tembok sakitku
Menjaga diri ini dari hitamku

21 nop 2008

(puisi ini dibuat serta merta dalam suatu pelatihan bagaimana mengoptimalkan otak. Saat workshop di salah satu sesi, kami diminta untuk membuat puisi dengan menghubungkan kata ibu dan batu. Dengan menggunakan teknik mind mapping, jadilah puisi tersebut. Puisi ini menurutku biasa namun menjadi luar biasa karena pujian yang keluar dari salah satu guru matematikaku saat SMP yang kebetulan ikut pelatihan juga. Pujian itu mengembalikan rasa percaya diriku yang sempat hilang beberapa hari yang lalu. Dia berkata, “Kamu dulu boleh mengagumi saya tapi sekarang saya mengagumimu karena puisi itu.”)

Partai Politik, Kemarin, Hari Ini, dan Esok

By: Lilih Muflihah
Partai politik dari masa ke masa mengalami perkembangan meskipun belum dapat dianggap perkembangan yang terjadi mengarah pada hal yang positif. Pada awal kemerdekaan, partai politik belum berperan secara optimal sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi politik rakyat. Hal ini terlihat dari timbulnya berbagai gejolak dan ketidakpuasan sekelompok masyarakat yang merasa aspirasinya tidak terwadahi dengan melakukan gerakan-gerakan separatis kedaerahan. Pada fase berikutnya dalam sejarah perjalanan bangsa yaitu masa Orde Lama, peran partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi politik rakyat juga belum terlaksana sesuai dengan yang diharapkan. Partai politik cenderung terperangkap oleh kepentingan partai dan bukan kepentingan rakyat secara keseluruhan. Sebagai akibat daripadanya adalah terjadinya ketidak stabilan sistem kehidupan politik dan kemasyarakatan yang ditandai dengan berganti-gantinya kabinet. Di zaman Orde Baru, partai politik dalam kehidupan berbangsa ditata melalui UU No. 3 Tahun 1973, partai politik yang jumlahnya cukup banyak di tata menjadi tiga kekuatan sosial politikyang terdiri dari dua partai politik yaitu PPP dan PDI serta satu Golkar. Partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi politik rakyat oleh pemerintahan orde baru tidak ditempatkan sebagai kekuatan politk bangsa tetapi hanya ditempatkan sebagai mesin politik penguasa dan assesoris demokrasi untuk legitimasi kekuasaan semata.

Kemudian terjadilah reformasi yang membuka pintu selebar-lebarnya bagi pembentukan partai. Banyaknya alternatif pilihan partai dinilai dapat memberikan indikasi yang kuat bahwa sistem pemerintahan di tangan rakyat sangat mungkin diwujudkan. Namun orientasi dibentuknya partai masih tidak lebih dari sekedar untuk mendapatkan kekuasaan akibatnya peran partai politik lebih cenderung ditentukan oleh dan untuk kepentingan segelintir elit politik yang memang haus akan kekuasaan. Padahal partai politik hadir bukan hanya untuk memfasilitasi elit politik merebut jabatan publik tapi juga harus melahirkan kader-kader baru yang diikat oleh satu ikatan ideologi untuk menjalankan program kerja partai dan berjuang untuk kepentingan rakyat.

Sesungguhnya partai politik berkembang menandakan bahwa demokrasi pun berkembang. Ada anggapan bahwa demokrasi tidak bisa dibangun tanpa adanya partai yang menjadi wadah bagi politisi sehingga kehadiran partai-partai politik merupakan suatu pengakuan penguasa akan hak warga negara untuk berbeda pendapat, kehadirannya sejalan dengan tumbuhnya kesadaran rakyat akan hak-hak politiknya meski tumbuhnya kesadaran yang ditandai dengan tumbuhnya partai politik saja tidak cukup dijadikan tolak ukur untuk menyebut suatu negara itu demokratis. Ukuran kedaulatan rakyat sesungguhnya dilihat dari semakin besarnya porsi peran yang dapat dimainkan oleh rakyat, serta semakin selarasnya kepentingan rakyat dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Di ranah inilah partai politik dapat berperan sebagaimana mestinya sebagai jembatan antara pemerintah dan rakyat.

Sesungguhnya partai politik berusaha untuk menguasai jabatan-jabatan publik atau dengan kata lain ia berusaha mencari kekuasaan melalui pemilihan-pemilihan atau cara lain untuk menduduki jabatan-jabatan publik baik di legislatif maupun eksekutif. Meskipun demikian, kekuasaan sebenarnya diperlukan hanya sebatas pada kondisi yang memungkinkan partai politik dapat menjalankan peran politiknya, bukan malah sebaliknya yaitu memainkan fungsinya untuk mendapatkan kekuasaan yang sebesar-besarnya untuk kepentingan pribadi atau kelompok saja yang akan berakibat hilangnya kepercayaan rakyat.

Dalam prakteknya partai politik cendrung bersifat pragmatis, ideologi yang diusung partai sebagai dasar organisasi hanya sebatas simbol. Ideologi hanya menjadi label instrumental dan penuh keterbatasan. Ini mungkin untuk membantu menarik dukungan komunitas primordial tetapi sekaligus membatasi diri pada komunitas lain. Menarik simpati pemilih sebanyak mungkin lebih ditentukan oleh sikap yang lebih moderat bagi ide-ide dan kepentingan pragmatis yang berkembang di masyarakat. Seringkali demi meraup banyak kursi di parlemen, dengan langkah yang menyesatkan, partai politik berusaha meraup suara dengan menggunakan figuritas seseorang, kejayaan tokoh masa lampau, artis yang sedang populer, bahkan mungkin paranormal.

Pelembagaan sepertinya merupakan masalah utama dalam kepartaian di Indonesia. Beberapa parpol berumur panjang, tetapi tidak mengakar di masyarakat dan ironisnya, beberapa parpol mempunyai program khusus yang menjadi identifikasi partai, tetapi terpecah saat melangsungkan suksesi kepemimpinan. Fenomena perpecahan yang terjadi dalam partai politik belakangan ini, dapat dikatakan tidak ada yang menyangkut perbedaan ideologi ataupun karena perbedaan pola dan arah kebijakan yang hendak ditempuh. Perpecahan yang berakhir dengan pembentukan partai baru ini terutama disebabkan oleh persaingan mendapatkan kedudukan baik di dalam partai ataupun kedudukan di lembaga legislatif dan eksekutif yang mewakili partai politik yang celakanya tidak diatur melalui mekanisme yang terbuka, kompetitif dan adil.

Partai politik di Indonesia setidak-tidaknya mengandung tiga kelemahan utama, yaitu ideologi partai yang tidak operasional sehingga tidak saja sukar mengidentifikasi pola dan arah kebijakan publik yang diperjuangkannya tetapi juga sukar membedakan partai yang satu dengan partai lain. Lalu internal organisasi partai kurang dikelola secara demokratis sehingga partai politik lebih sebagai organisasi pengurus yang bertikai daripada suatu organisme yang hidup sebagai gerakan anggota. Kemudian secara eksternal kurang memiliki pola pertanggungjawaban yang jelas kepada publik.

Ramlan Surbakti mengungkapkan bahwa seyogyanya partai politik memiliki empat konsep. Pertama dapat dikontrol oleh rakyat dari segi keanggotaan, kepengurusan, keuangan, dan kompetisi. Kedua, perlu dikembangkan sistem kepartaian pluralis yang cocok dengan kemajemukan masuarakat tetapi di sisi lain dapat menghasilkan pemerintahan yang efektif, dengan kata lain tidak membuat perbedaan menjadi sama namun membuat perbedaan itu selaras satu sama lain. Ketiga, partai politik hendaknya dikelola oleh orang-orang yang memahami demokrasi dan tidak pragmatis. Keempat, partai politik tidak memonopoli kepentingan, kekuasaan, dan informasi publik.

Partai Politik mempunyai beberapa fungsi partai politik yang meliputi fungsi rekrutmen politik, fungsi sosialisasi politik, fungsi komunikasi politik, dan fungsi pengatur konflik. Fungsi rekrutmen politik dalam hal ini partai politik mencari dan mengajak orang yang berbakat untuk aktif dalam kegiatan politik menjadi anggota partai yang kemudian juga kelak akan menjadi pengisi jabatan-jabatan baik di legislatif maupun eksekutif. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan partai agar fungsi ini berjalan efektif yaitu menyiapkan kader-kader pimpinan politik, selanjutnya melakukan seleksi terhadap kader-kader yang dipersiapkan, dan berjuang untuk penempatan kader yang berkualitas, berdedikasi, memiliki kredibilitas yang tinggi, serta mendapat dukungan dari masyarakat pada jabatan jabatan politik yang strategis. Rekrutmen politik yang dilakukan harus adil, transparan, dan demokratis untuk memilih orang-orang yang berkualitas dan mampu memperjuangkan nasib rakyat banyak untuk mensejahterakan dan menjamin kenyamanan dan keamanan hidup bagi setiap warga negara. Kesalahan dalam pemilihan kader yang duduk dalam jabatan strategis bisa menjauhkan arah perjuangan dari cita-rasa kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan bagi masyarakat luas.

Namun dalam merekrut kader, kenyataannya partai politik masih belum mampu merekrut kader politik yang berkualitas, berdedikasi, dan memiliki loyalitas serta komitmen yang tinggi bagi perjuangan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Banyak terjadi fenomena yang cukup ganjil, dimana anggota legislatif di beberapa daerah tidak menjagokan kadernya, tetapi justru memilih kader lain yang belum dikenal dan belum tahu kualitas profesionalismenya, kualitas pribadinya, serta komitmennya terhadap nasib rakyat yang diwakilinya. Proses untuk memenangkan seorang calon pejabat politik tidak berdasarkan pada kepentingan rakyat banyak dan bahkan juga tidak berdasarkan kepentingan partai, tetapi masih lebih diwarnai dengan motivasi untuk kepentingan yang lebih bersifat pribadi atau kelompok.

Selanjutnya fungsi partai politik adalah sosialisasi politik. Sosialisasi politik partai selain memiliki makna sosialisasi kepentingan partai politik juga dimaksudkan dalam kerangka upaya demokratisasi Di dalam ilmu politik, sosialisasi politik diartikan sebagai proses seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik. Mengenai bentuk sosialisasi politik, Dawson dan kawan-kawan menyatakan bahwa sosialisasi politik dapat mengambil bentuk yang langsung maupun tak langsung. Dan untuk menyampaikan nilai-nilai, sikap, pandangan maupun keyakinan politik tersebut memerlukan agen sosialisasi politik yang menurut Almond ada enam, yaitu keluarga, sekolah, kelompok bermain, pekerjaan, media massa, dan kontak-kontak politik langsung. Partai politik seharusnya mampu melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai apa yang berkaitan dengan perpolitikan bangsa dan negara, memberikan pengertian kepada masyarakat supaya tidak menjadi anti terhadap dunia politik dan masyarakat menjadi paham akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam usaha menguasai pemerintahan melalui kemenangan dalam pemilihan umum, partai harus memperoleh dukungan seluas mungkin dengan menciptakan kesan yang baik bahwa ia memperjuangkan kepentingan umum namun kesan baik suatu partai disosialisasikan dengan kesan buruk partai saingannya. Jika kita mengamati perkembangan partai politik Indonesia saat ini maka fungsi sosialisasi politik tersebut berubah menjadi "provokasi politik". Hampir setiap partai politik di Indonesia menanamkan kebencian dan dendam antarsesama, bukannya semangat untuk menghargai perbedaan.

Di satu pihak partai politik ikut memainkan peranannya dalam mewujudkan kehidupan demokrasi terutama karena partai politik menjadi wahana komunikasi antar elemen-elemen kemasyarakatan dan kenegaraan. Di pihak lain dengan semakin berkembangnya kehidupan masyarakat, partai politik juga dituntut untuk semakin eksis serta lebih berkualitas. Melalui partai politik, rakyat dapat mewujudkan haknya untuk menyatakan pendapat tentang arah kehidupan dan masa depannya dalam bermasyarakat dan bernegara. Partai politik merupakan komponen yang sangat penting dalam sistem politik demokrasi. Salah satu tugas dari partai politik adalah menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi. Dalam fungsi komunikasi politik, partai politik berperan sebagai pengeras suara bagi rakyat dan sebagai alat pendengar bagi pemerintah.

Partai politik dituntut untuk mampu mengkomunikasikan apa yang menjadi kehendak dan keinginan masyarakat untuk dirumuskan dan disampaikan kepada pembuat kebijakan, dalam hal ini adalah pemerintah. Sehingga pemerintah dapat mengetahui apa sebenarnya yang menjadi keinginan dan kebutuhan masyarakat. Namun keadaan yang ada justru seringkali kehendak dan keinginan masyarakat bertentangan dengan suara yang disampaikan oleh partai akibatnya yang disampaikan adalah keinginan partai. Aspirasi rakyat belum tertangkap, terartikulasi, dan teragregasikan secara transparan dan konsisten. partai politik yang tidak mengaktualisasikan aspirasi rakyat dalam wujud program partai yang akan diperjuangkan.

Terakhir, partai politik harus mampu meredam segala konflik yang terjadi dalam masyarakat dalam wujud fungsi pengatur konflik. Partai dituntut untuk mampu mengelola segala kemungkinan yang mengarah terjadinya konflik dalam masyarakat. Dalam menjalankan fungsi sebagai pengatur konflik ini, partai-partai politik harus benar-benar mengakar dihati rakyat banyak, peka terhadap bisikan hati nurani masyarakat serta peka terhadap tuntutan kebutuhan rakyat. Namun akhir-akhir ini, tak sedikit partai yang justru menjadi pemicu konflik dalam masyarakat karena elit politik yang belum siap dalam berkompetisi secara adil. Selain itu kepentingan yang dikejar partai hanyalah kepentingan partai yang sempit bukan kepentingan nasional, akibatnya konflik tidak terselesaikan malah dipertajam. Begitu banyak konflik horizontal dan vertikal dalam masyarakat, termasuk yang berupa kekerasan, merupakan indikator ketidakberhasilan partai politik melaksanakan fungsi pengatur konflik.

Kecenderungan saat ini menunjukkan, partai politik di Indonesia bukanlah kristalisasi dari kekuatan-kekuatan yang memiliki kesadaran ideologis untuk memperjuangkan visi dan misi organisasi, melainkan kristalisasi dari kelompok kepentingan untuk semata meraih kekuasaan. Proses-proses politik yang rasional di dalam tubuh parpol cenderung tidak berkembang. Mekanisme pelaksanaan fungsi-fungsi kelembagaan partai pada umumnya tidak berjalan secara otonom, amat menggantungkan hidup-matinya kepada elit partai di pusat. Oleh karena itu masih banyak tugas yang perlu diselesaikan. Dibutuhkan memfungsikan kembali partai politik pada fungsi yang seharusnya. Fungsi-fungsi tersebut harus diporsikan pada skala intensitas yang relatif seimbang dan serasi, agar masing-masing dapat saling memperkuat dan memperluas kapasitasnya. Partai Politik, tidak boleh hanya menjadi hal-hal yang bersifat kepentingan sempit dan sesaat. Dalam kaitan ini semua pihak wajib ikut berpartisipasi untuk makin mendewasakan perilaku politik semua pihak.

Pemilihan Kepala Daerah Langsung

By: Lilih Muflihah
Praktek penyelenggaraan pemerintahan daerah saat ini tak habisnya dibicarakan khususnya pemilihan kepala daerah langsung yang akhir-akhir ini diselenggarakan diberbagai daerah di Indonesia. Ada beberapa variasi yang lazim dilaksanakan di berbagai negara dalam mekanisme pemilihan kepala daerah yaitu kepala daerah dapat dipilih secara langsung oleh masyarakat, dipilih oleh dewan, ataupun diangkat oleh Pemerintah Pusat. Pemberian wewenang dari Pusat ke Daerah atau yang sering disebut sebagai otonomi daerah merupakan salah satu faktor pendorong ide pemilihan langsung. Dengan pemilihan secara langsung kepala daerah akan terikat secara moral, ideologis, dan politik terhadap harapan dan tuntutan masyarakat. Pemilihan kepala daerah secara langsung dinilai lebih demokratis ketimbang cara-cara lainnya di mana rakyat dapat terlibat langsung dalam pemilihan dan terkesan lebih obyektif. Harapan lain adalah dengan pemilihan langsung dapat memperkecil peluang politik uang namun sepertinya karena sistem yang dibuat belum sempurna, bedanya jika pemilihan melalui dewan, politik uang berkisar di lingkungan anggota dewan sedangkan pemilihan langsung politik uang merata di lingkungan masyarakat.

Ide pemilihan kepala daerah secara langsung merupakan salah satu upaya demokratisasi di daerah yang pada akhirnya tercapainya suatu keadaaan makmur dan sejahtera. Namun sepertinya semangat pemilihan secara langsung masih bersifat euforia demokrasi sehingga masih sulit melihat dampak positif pada peningkatan kualitas demokrasi di tingkat lokal. Jika melihat kembali mekanisme pemilihan sebelumnya yaitu melalui mekanisme Pilkada oleh DPRD, dalam prakteknya sering menghadirkan berbagai indikasi kecurangan dan kewenangan besar yang dimiliki oleh legislatif daerah tersebut dalam semua tahapan pemilihan tidak terbukanya akses masyarakat dalam menentukan siapa yang pantas menjadi pimpinannya. Ada kesan yang kuat bahwa proses-proses dalam Pilkada merupakan monopoli para politisi DPRD. Masyarakat sebagai pemilik kedaulatan politik di daerah sama sekali tidak memiliki akses untuk mempengaruhi keputusan para anggota dewan tersebut. seseorang bisa saja menjadi kepala daerah meskipun tidak didukung rakyat, asalkan mampu menanamkan pengaruh di kalangan mayoritas anggota dewan untuk memilihnya. Usaha untuk mempengaruhi sikap dan keputusan politik tersebut yang membuka kesempatan lahirnya transaksi politik gelap. Sesungguhnya esensi diaturnya kewenangan DPRD dalam memilih kepala daerah merupakan upaya untuk mewujudkan otonomi daerah yang juga bermuara pada demokratisasi di daerah. Namun dalam pelaksanaannya kewengan tersebut malah kontra produktif dan menjadi penghambat proses politik yang demokratis.

Saat ini mekanisme pemilihan yang dilakukan adalah secara langsung namun pada prakteknya juga sulit dikatakan bahwa hal tersebut demokratis. Secara prosedural mungkin proses demokrasi melalui Pilkada langsung sudah benar namun dari substansial belum ada jaminan bahwa mekanisme tersebut akan melahirkan proses yang demokratis apalagi tak ada garansi instrumen tersebut akan melahirkan pemimpin daerah yang mampu, berkualitas, dan diterima masyarakat sehingga bisa membawa daerahnya ke arah yang lebih baik. Ironisnya mekanisme pemilihan ini pun tidak jauh berbeda dalam kenyataannya dengan mekanisme sebelumnya, hanya menjadi ajang praktek politik yang kontra produktif bagi pengembangan demokrasi itu sendiri. Politik uang, kecurangan dalam pemungutan suara, intervensi dari pimpinan pusat partai ternyata masih ikut mewarnai mekanisme pemilihan langsung tersebut.

Jika dilihat dari berbagai kasus pemilihan kepala daerah di Indonesia, terkesan seolah-olah jabatan kepala daerah adalah mudah, siapa saja bisa melakukannya, dan pantas untuk diperebutkan sampai titik darah penghabisan, seperti kasus pemilihan gubernur di Maluku Utara yang tak berkesudahan. Perebutan jabatan tersebut seolah dirinyalah yang lebih layak daripada yang lain, mereka tidak peduli resiko kewajiban yang harus diemban dalam memimpin penyelenggaraan pemerintahan daerah yang sebenarnya sangat berat. Bertambahnya kewenangan daerah akan mengakibatkan pengelolaan daerah semakin sulit, merupakan tanggung jawab kepala daerah untuk dapat mengelola sumber daya manusia, dana, dan sarana yang dimiliki agar bisa didayagunakan secara efektif dan efisienguna meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat di daerahnya. Diperlukan kepala daerah yang tidak hanya memiliki kapabilitas dan integritas yang tinggi, tetapi juga komitmen untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera, adil, aman, makmur, dan demokratis. Namun apa jadinya jika dalam taraf pemilihan kepala daerah saja semua pihak adu otot memperebutkan jabatan itu bahkan harus terjadi pertumpahan darah yang seharusnya tidak perlu terjadi. Bagaimana bisa membangun daerah untuk lebih baik jika setelah pemilihan terjadi konflik berkepanjangan bahkan sampai fasilitas yang ada ikut hancur.

Secara nyata kita bisa melihat ada beberapa kelemahan dalam pemilihan kepala daerah langsung antara lain biaya yang harus disediakan sangat besar, jangkauan wilayah tiap daerah pun berbeda sehingga tidak menutup kemungkinan proses dan pelaksanaannya akan terhambat karena sulitnya jangkauan wilayah tersebut, sebagian besar masyarakat Indonesia masih bersifat paternalistik dan primordial akibatnya masyarakat masih sulit menentukan pilihannya secara mandiri sehingga kesempatan untuk dipengaruhi, dihasut bahkan dimanipulasi oleh elit-elit kelompok begitu besar. Ditambah lagi partai-partai politik masih bersifat sentralistis sehingga bisa saja pilihan yang diberikan elit partai di pusat tidak sesuai dengan aspirasi konstituen di daerah. Yang lebih utama, penegakan hukum atau komitmen terhadap peraturan yang telah dibuat masih sangat lemah misalnya terjadi pelanggaran namun tidak ada sanksi yang dikenakan bahkan kasusnya menguap tanpa bekas. Dampak pemilihan kepala daerah langsung dengan berbagai kondisi tersebut menimbulkan aspek politik maupun sosial, terlihat dari setiap akhir pemilihan kepala daerah di mana banyak terjadi protes dan berujung pada tuntutan di pengadilan. Hal tersebut sah saja dilakukan dalam atas nama demokrasi namun mobilisasi masyarakat di tengah-tengah masyarakat yang masih paternalistik dan primordial menimbulkan konflik terbuka antar para pendukung calon kepala daerah yang berujung pada gangguan stabilitas keamanan seperti pengrusakan terhadap fasilitas umum dan pribadi bahkan memakan nyawa masyarakat sipil.

Variasi pemlihan kepala daerah apakah secara langsung atau tidak langsung, tidak bisa menjamin peningkatan kualitas demokrasi itu sendiri. Kualitas demokrasi sebenarnya harus didasarkan pada banyak hal, khususnya menyangkut penerapan prinsip transparansi anggaran, partisipasi kelembagaan lokal, dan akomodasi kepentingan-kepentingan masyarakat dalam pengambilan keputusan maupun peraturan daerah. Kesuksesan mekanisme pemilihan yang diterapkan bukan terletak pada bentuk formalnya namun lebih pada ketepatan, keterjangkauan dan kesesuaiannya dengan kondisi objektif perkembangan dalam suatu masyarakat.

Rabu, 26 November 2008

Aku dan Masalah

Masalah ini begitu rumit dan kompleks hingga aku tak kuasa mencari solusi, hingga tak tahu harus bagaimana sampai aku tak mengenal lagi siapa aku. Masalah ini membuatku tersiksa hingga membuntukan pikiran jernihku, hinggamengganggu kreatifitasku sampai aku letih menata hatiku. Aku semakin tersiksa kala aku tak kuasa lagi merangkai kata bahkan sekedar untuk menggerakkan pena untuk mengungkapkan perasaanku. Aku hilang akal terjebak dalam diriku.

Aku merasakan perasaan yang salah, melakukan hal yang salah, dan bersikap yang salah. Celakanya aku sudah tahu salah tapi tak bisa menghentikan yang salah itu. Bahkan kata-kata bijak yang pernah kuungkapkan menjadi siksaan yang luar biasa karena diriku tak berdaya untuk memperbaiki yang salah.

Aku sungguh merasa tak berguna, pikiranku pun menjadi buntu. Hatiku begitu hancur. Pilu telah mengahantarkan sakit begitu dalam. Inginku seorang membantu namun curhatku terasa hambar karena banyak kata yang bersembunyi. Lelah begitu merajai, mendesak marah keluar dari peraduan namun aku hanya bisa diam dan membiarkan pusing menyapa. Sendiri menahan bingung.

Ingin Ku Tak Ingin


-->
By: Lilih Muflihah

Ingin kuusir ramai tapi sepi begitu angkuh
Ingin kurangkul rasa tapi hati begitu resah
Ingin kugapai nyata tapi mimpi begitu tinggi
Ingin ku tak ingin
Erat genggaman lepas dari tangan
Lekat menatap luput dai pandangan
Rapat tersimpan perlahan terkuak
Jauh berlari masih kembali
Ingin ku tak ingin
Ingin kuucap kata tapi bibir begitu kelu
Ingin kuhempas duka tapi suka begitu hampa
Ingin kugoyah benci tapi cinta begitu rapuh
Ingin ku tak ingin
Berpisah rindu rasa harap berlalu asa
Terbang sayap tak rela mengepak
Mendarat lelah di lautan pekat
Berenang kemudian tenggelam
(Januari 2008)

Wajah Kaki


-->
By: Lilih Muflihah

Kaki-kakiku berjalan
Wajah-wajah pun memandang
Perlahan tapaki waktu
Mencari langkah-langkah misteri

Kaki-kakiku berhenti
Wajah-wajahpun bias
Perlahan jauhi diri
Hindari jejak-jejak diri

Kaki-kakiku berlari
wajah-wajah pun merona
Tak perlahan lagi tapi masih pasti
Berlari mengejar mimpi

Ini hanya wajah kaki
yang langkahnya menuju hari
Datang lalu pergi
Menjauh kemudian kembali

Ruang Kuliah MIP, 090508, 15:15

Presiden Kampus

By: Lilih Muflihah

Mungkin kalau dihitung, sudah lebih dari tiga puluh orang yang berlalu lalang di depanku. Aku, Elin, dan Ika duduk termangu di pinggir serambi pintu masuk gedung D Fakultas Hukum, menunggu dosen pembimbing kami yang tak kunjung datang. Mungkin targetku untuk meyelesaikan skripsiku 2 bulan lagi bakal kandas karena sampai saat ini aku belum turun lapang. Dosen pembimbing kami cukup sibuk dengan berbagai kegiatan, aku maklum tapi tak terpikirkah ia memperhatikan skripsi kami sebentar saja.
Risa tampak keluar dari gedung menuju ke tempat kami duduk.

“Pak Sogi ke Jakarta, mungkin sebulan,” ucap Risa memberitahu. Ia memang lebih beruntung, pembuatan skripsinya bebas hambatan.

“Selamat Anda beruntung memiliki satu bulan kebebasan,” ucap Elin sambil menghela nafas panjang. Dia tampak kecewa sama sepertiku sedangkan Ika tak bergeming, raut wajahnya tak berubah.

“Tenang saja, kita masih punya kesempatan dua setengah tahun lagi untuk kuliah di sini,” ucap Ika santai.

Semua ini membuat kepalaku pusing, semua rencana yang telah kususun hanya tinggal harapan. Orangtuaku pasti akan kecewa kalau aku tak bisa menyelesaikan kuliahku tahun ini. Terus terang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selama sebulan ini.
Kami sibuk dengan pikiran masing-masing, sunyi, tanpa perbincangan. Beberapa orang menempel selebaran di papan pengumuman di sebelah kiri kami duduk mengusik keingintahuanku lalu aku beranjak menuju papan pengumuman. Di sana tertulis pengumuman pendaftaran bagi calon presiden dan wakil presiden kampus yang baru. Entah darimana aku dapat ide, tiba-tiba ada keinginan untuk ikut serta. Hitung-hitung penyegaran sekaligus ikut berpartisipasi meramaikan suasana. Biarpun bukan calon presiden sebenarnya.

“Daripada kesal lebih baik kita ikut pencalonan presiden kampus saja. Lumayan untuk mengisi waktu,” ajakku pada mereka.

“Ide bagus. Kita berlima bisa jadi tim yang hebat. Aku mau jadi tim sukses,” tanggap Elin bersemangat kembali ceria.

“Untuk apa?” tanya Sari yang tanpa kusadari sudah berdiri di tempat kami berempat duduk.

“Untuk penyegaran aja,” jawabku singkat seraya tersenyum.

“ Rahma dan Risa sebagai calon presiden dan wakil presiden sedang aku, Ika, dan Sari menjadi tim sukses, bagaimana?” usul Elin.

“Aku tidak mau ikut, sebentar lagi aku ujian komprehensif,” terang Risa.

Aku pikir ini akan jadi permainan yang seru. Memang terlalu timpang jika aku dibandingkan dengan mereka. Risa yang cantik dan cerdas sangat pas sebagai pasanganku dalam pencalonan, Elin dan Sari yang memiliki bakat dagang dan Ika mempunyai banyak teman di kampus. Namun sayang, ia tak mau turut ambil bagian.

“ Masih banyak kegiatan lain.” Ujarnya dengan nada tinggi lalu beranjak pergi.

“ Uh, tidak setia kawan,” ucap Elin kesal.

“Risa, Sari awas kalau sampai ikut-ikutan Ika, aku tidak akan mau kenal kalian lagi.” Ancam Elin.

Risa tampak kesal karena terpaksa ikut rencana kami. Itulah Risa, sulit untuk mengatakan tidak pada Elin yang sudah ia kenal sejak kecil. Sedangkan Sari tanpa komando sudah menyusun sebuah rencana.

“Rahma dan Risa, kalau bisa besok langsung mendaftar. Jangan khawatir tentang visi dan misi, besok pagi aku kasih ke kalian. Elin, buat selebaran tentang mereka. Usahakan kita menarik hati teman-teman yang sering golput.” jelas Sari.

“Hei, jangan terlalu semangat, nanti kita bisa menang,” tegur Risa.

“Kalau menang berarti kita berhasil,” ucap Sari seraya tertawa sedang Risa tampak tegang. Aku dan Elin hanya tersenyum dan saling berpandangan.

***
Aku tidak menyangka kabar tentang keikutsertaan aku dan Risa dalam pencalonan menimbulkan kontroversi. Kami yang tidak memiliki pengalaman memimpin suatu organisasi berani mencalonkan diri. Beberapa mahasiswa sempat meragukan kami karena status sebagai mahasiswa semester akhir yang sedang menyusun skripsi bahkan seorang dosen menegurku. Aku maklum dengan semua reaksi itu, toh mereka tidak tahu tujuan kami sebenarnya.

“Apa sih maksud kamu mencalonkan diri? Sudah deh nggak usah neko-neko. Buruan selesaikan skripsimu biar cepat wisuda. Cari sensasi aja,” cerca Melda yang merupakan tim sukses pasangan Mezi dan Iwan.

“Wajar saja, dalam sebuah sistem demokrasi partisipasi politik itu penting. Sudahlah jangan khawatir, basis massa pendukung kami tidak jelas kok, “ ucapku santai.

Memang banyak orang yang kurang suka pencalonan ini namun tidak sedikit aku berjumpa dengan orang yang serta merta mengenal wajahku lalu menyapaku, hal yang sangat jarang mereka lakukan. Kami juga menjadi terkenal karena wajah-wajah kami terpampang di berbagai tempat. Sejujurnya aku sangat menikmati situasi ini.

Aku, Risa, Elin, dan Sari berjanji untuk bertemu di gedung A Fakultas Hukum, berencana membicarakan persiapan pidato kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden kampus. Kulihat dari kejauhan Risa berjalan cepat untuk menemuiku. Ia terlihat gugup tapi wajahnya merona.

“Aku dapat surat.” Ucapnya sambil memberiku sebuah amplop merah muda lalu aku membacanya.

BEGITU BANYAK BINTANG DI LANGIT
BANYAK PULA BINTANG YANG INDAH
BIARPUN ADA SEJUTA BINTANG
KAU TETAP YANG TERINDAH
DARI SESEORANG YANG MENGAGUMIMU,
ZIKO PRASETYO

Ini memang bukan pertama kali Risa mendapat surat cinta tapi mendapat surat cinta dari Ziko Prasetyo sungguh luar biasa, aku mengerti mengapa ia begitu panik karena sudah lama Risa menyimpan rasa padanya. Namun aku menangkap suatu keganjilan karena Ziko merupakan salah satu pesaing kami dalam pencalonan. Mungkinkah ia sedang merencanakan sesuatu atau memang jatuh cinta disaat yang kurang tepat?

Selama ini di kampus memang dikuasai dua kekuatan yang berasal dari organisasi ekstra kampus, kedua organisasi ini secara langsung maupun tak langsung mempengaruhi pergulatan politik organisasi internal kampus. Pencalonan kami seolah menjadi alternatif baru yang mungkin saja memecah dukungan mereka meskipun ada satu pasang kandidat lagi yang mungkin lebih berbahaya. Aku khawatir Ziko hanya memanfaatkan situasi.

“Bagaimana kalau aku ternyata jatuh cinta?” tanya Risa seolah aku tak tahu perasaannya.

“Tenang dong. Kayak baru pertama kali jatuh cinta saja. Yang jelas kamu harus menunda jawaban sampai pemilihan. Ini juga bisa sebagai pembuktian apakah ia benar cinta atau hanya strategi dia untuk menggoyangkan kita. Pokoknya setelah ini selesai kamu boleh deh terima lamaran si Ziko itu.” Ucapku setengah becanda.

Aku mencoba memahami perasaan Risa. Kuajak ia untuk duduk di tepi lantai lorong penghubung gedung A dan B. Angin sepoi-sepoi berhembus, pepohonan yang tumbuh di sekitar gedung cukup mujarab untuk menutupi sengatan matahari. Sesekali ia menghela nafas panjang dan mengembungkan pipinya, membuatku tertawa kecil.

“Hayo melamun,” teriak Elin mengagetkan kami.

“Kok nongkrong di fakultas orang?” tanyanya bercanda sembari duduk di sebelahku.

“Tidakkah kau menyadari ini juga bukan fakultasmu? Risa balik bertanya dengan kesal diikuti suara gelak tawa aku dan Elin.

“Sari masih di ruang baca FH, sebentar lagi ia kesini” ujar Elin memberitahu.

“Aku mau pulang,” pamit Risa tiba-tiba, ia bangkit dan berjalan pergi. Elin mencoba menghentikannya namun kucegah.

“Biarkan saja,” cegahku sambil mengamit tangan kanannya dan memberikan surat cinta untuk Risa yang sedari tadi kupegang. Elin membuka dan membaca surat itu kemudian mengangguk-anggukkan kepala. Aku tidak tahu apa maksud tingkahnya itu.
***
Tarup sudah berdiri tegak di belakang gedung Rektorat, kursi-kursi pun sudah disusun rapi dan sound system pun sudah siap difungsikan. Empat pasang calon termasuk kami sudah hadir mengisi kursi-kursi yang ada di atas panggung, mahasiswa dan mahasiswi mulai berdatangan. Pembantu Rektor Bagian Kemahasiswaan pun sudah siap memberi sambutan. Kutangkap ekspresi gugup dari wajah Risa karena harus duduk bersebelahan dengan Ziko, pujaan hampir semua perempuan. Aku sempat memiliki perasaan khusus padanya, ia merupakan perpaduan yang pas antara fisik, otak, dan tingkah lakunya mungkin jika ada kontes ketampanan ia cocok menjadi kandidat Putra Indonesia.

Acara sudah dimulai, satu persatu para kandidat memberikan pidato kampanye. Mereka berbicara dengan percaya diri dan sistematis tentang visi, misi, dan program kerja yang begitu bagus. Mereka berbicara tentang perbaikan kualitas pendidikan di kampus, pemfungsian kembali fasilitas kampus, peningkatan peranan organisasi kemahasiswaan dan sebagainya. Sedangkan aku tidak banyak bicara dalam pidatoku.

“Kami akan menyatukan seluruh organisasi kemahasiswaan yang ada di kampus ini selain itu kami juga akan menggalakkan kembali diskusi ilmiah dikalangan mahasiswa.” Ucapku dengan suara lantang.

Para mahasiswa yang duduk di barisan depan tampak memperhatikan pidatoku tapi aku sangat terganggu dengan panitia yang membagikan air minum dan makanan saat aku berbicara. Aku jadi menduga mereka sengaja melakukannya.

“Menjadi mahasiswa bukan hanya sekedar untuk mendapat gelar sarjana atau mendapat kerja tapi di perguruan tinggi ini untuk mengasah kemampuannya, meningkatkan mental, dan membentuk kepribadian yang baik.” Lanjutku meneruskan pidato dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Aku memberikan kesempatan pada Risa untuk berpidato. Guratan khawatir terlihat di wajahnya yang sedikit pucat. Ia mengeluarkan selembar kertas lalu membacanya seperti membaca puisi.

“Segala perasaan dalam hati membangkitkan semangat. Segala ide dalam pikiran mengalirkan kekuatan. Kami di sini bukan untuk kekuasaan ataupun kepuasan. Kami bawa hati dan pikiran untuk memperoleh perbaikan yang lebih maju, bermartabat, dan bermanfaat. Pilih kami paket 2,” ucap Risa dengan mantap dan diikuti riuhnya tepuk tangan.

Sari sungguh berbakat dalam membuat konsep cemerlang, ia tahu bagaimana membuat orang lain terkesan dengan kalimat yang singkat namun penuh makna. Risa merona saat Ziko memuji pidatonya. Mungkin perasaannya terbang ke angkasa, terbuai ucapan sang pujaan namun ia harus kembali ke bumi karena Elin dan Sari mengajak kami ke samping gedung Rektorat setelah acara selesai.

“Ini keadaan darurat, aku sudah survei ke teman-teman dan sepertinya kita memiliki peluang yang cukup besar untuk menang,” jelas Sari.

“Kita mundur saja,” saran Risa.

“Tidak semudah itu, kita harus punya alasan yang jelas dan masuk akal untuk mengundurkan diri,” sanggah Elin.

Tak pernah terlintas dalam pikiranku kalau kami akan memenangkan pemilihan ini. Tidak ada alasan yang kuat bagi mereka untuk memilih kami yang tidak punya pengalaman memimpin. Aku bingung bagaimana nasib target wisudaku. Rasanya badanku akan roboh. Mengundurkan diri saat ini juga bukan jalan keluar karena sama saja membuka kedok keisengan kami lagipula aku tidak ingin jadi bahan cemooh teman-teman satu kampus. Elin dan Risa masih berdebat sengit tentang langkah apa yang selanjutnya harus diambil. Aku tidak mengerti dengan Sari disaat yang katanya darurat ini, ia masih sempat menerima panggilan dari ponselnya dan mengirim beberapa SMS entah kemana.
***
Sudah seminggu perutku tak kunjung sembuh, mungkin karena sering telat makan atau mungkin karena stres memikirkan pemilihan presiden dan wakil presiden kampus. Pak Sogi sudah kembali dari Jakarta, ia sudah memeriksa skripsiku dan memintaku untuk segera memperbaikinya. Risa tertunda ujian komprehensifnya karena dosen pengujinya dirawat di rumah sakit. Elin dan Ika sudah berbaikan dan sering terlihat bersama di perpustakaan. Sedangkan Sari sudah tiga hari ini ia tidak mengabari aku maupun sahabatnya yang lain.
Para mahasiswa sudah memenuhi tempat pemilihan presiden dan wakil presiden kampus sedari pagi. Beberapa orang panitia pemilihan mengecek kartu mahasiswa setiap pemilih. Aku berdiri di bawah pohon yang tidak jauh dari tempat pemilihan, mengamati setiap mahasiswa yang lalu lalang. Kumatikan ponsel karena begitu banyak panggilan masuk maupun SMS yang memberitahu perolehan sementara paket 2 yang mengguli kandidat lainnya. Risa yang baru saja tiba di kampus melihatku berdiri dan langsung mengajakku masuk ke dalam gedung E FH tepat di depanku berdiri dan duduk di ruang kuliah yang kosong. Ia tidak berkata apapun. Aku pun tidak tahu harus berkata apa.

Terdengar suara berisik di luar gedung memaksa kami untuk keluar dan melihat apa yang terjadi. Sekelompok mahasiswa membawa karton-karton bertuliskan kata-kata, meneriakkan kalimat-kalimat yang menuntut penghentian pemilihan ini karena hasil pemilihan anggota senat dinilai cacat hukum. Ada beberapa aturan yang dilanggar diantaranya rangkap jabatan yang dilakukan oleh beberapa anggota senat.

“Segala keputusan yang dibuat Senat periode ini tidak sah termasuk pemilihan ini,” orasi salah seorang diantara mereka.

Tiba-tiba seluruh badanku terisi kembali dengan semangat. Akhirnya aku bisa keluar dari masalah ini. Ika tampak diantara para pendemo itu. Mungkinkah ia yang merencanakan ini? Kemudian kulihat Sari berlari menemui aku dan Risa.

“Semua terkendali,” lapor Sari singkat.

Aku sungguh lega sampai sekelompok mahasiswa yang datang dari arah berbeda yang menamakan diri sebagai pembela emansipasi wanita. Sari pun terbelalak, iatertunduk lesu, menyandarkan badannya di dinding. Sekelompok mahasiswa menuntut diteruskannya pemilihan dan menyegerakan peghitungan suara setelah waktu pemilihan selesai.

“Pemilihan merupakan bagian dari demokrasi. Hidup demokrasi! Hidup Perempuan!” orasi salah seorang yang berada di barisan paling depan.

Keadaan semakin memanas, lapangan FH lebih ramai dari biasanya. Para satpam pun mulai bersiaga mengantisipasi bentrokan kedua kubu yang berselisihan. Diantara hiruk-pikuk, aku berusaha untuk tetap menegakkan badanku. Kepalaku pusing tubuhku lemas kemudian tubuhku lunglai tak bisa merasakan apapun.
(19092006)
:cerpen jadul nih, pernah dibacain lewat radio.

TAK KAN SEKEDAR MUNGKIN


Kita tak kan menangkap yang kita mau jika tak mengejarnya.
Kita tak kan menemukan yang hilang jika tak mencarinya.
Kita tak kan menikmati manisnya perjuangan jika tak mencicipinya.
Mungkin kita di takdirkan menempuh jalan berliku.
Namun sejauh ini kita telah berhasil melewati jalan sebelumnya dengan sukses.
Mungkin kita hanya kurang berkemauan kuat.
Mungkin kita harus lebih bekerja keras.
Mungkin kita perlu memperbaiki keteguhan hati.
Namun ini tak kan sekedar mungkin.
(Lilih Muflihah, 26-11-08)

Senin, 24 November 2008

Pilu

By: Lilih Muflihah

Rembulan sembunyi di balik selimut abu-abu
Bintang malu enggan bertemu
Hanya hamparan langit setia membentang haru
Gelap ringan menyapa sunyi biru
Angin lembut sentuh dingin beku
Sisa hujan coba temani daun kalbu
Sementara malam berdendang sahdu
Kata terhadang kelu
Air mata pun terhempas ragu
Karena hati tak mampu merayu

Beberapa hal yang perlu dketahui untuk Mencegah Stunting

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun, Pagi yang indah di hari Selasa, tanggal 12 September 2017, Direktorat Kemitraan Komunikasi K...