Senin, 04 Agustus 2008

TERSANDUNG CINTA*



by: Lilih Muflihah

Menyebalkan. Datang pagi dengan semangat tinggi tapi dosen tak peduli. Seharusnya memang ada jam kuliah tapi entahlah. Tak apalah, bukankah akan mendapat satu nilai kebaikan jika niat ikhlas demi menuntut ilmu. Dosenku yang satu ini cukup istimewa, sering mengganti jam kuliah seenaknya tanpa alasan yang jelas dan sering datang terlambat.

Kulihat secarik kertas dengan tulisan big size menempel di depan pintu ruang B.3.1.

MATA KULIAH DIUNDUR BESOK PADA JAM YANG SAMA
TTD
DOSEN

“ Pengumuman mak jelas,” gerutuku dalam hati.

Susah payah kunaiki tangga samapai lantai tiga, harus rela turun kembali untuk tujuan yang kurang jelas. Dengan sedikit terpaksa kulangkahkan kaki agak cepat menuruni tangga, melewati ruang-ruang kuliah, dan menyusuri lorong yang sepi. Tanpa kusadari di tikungan ada seseorang yang berdiri. Buk. Brak. Kuhempaskan tas untuk menghindari tabrakan.

“Kalau jalan pakai mata dong!” Hardiknya. Kulihat tangan kanannya mengusap-usap bahu kirinya. Sepertinya tasku sudah menyakitinya.

“Kalau jalan ya pakai kaki.” Timpalku pelan

“Besok ajak anggota tubuh kamu rapat koordinasi, biar balance,” nasehatnya dengan amarah yang sedikit mereda

“Ma’af deh, tasku nyasar ke kamu,” tukasku sekenanya.

Kulanjutkan perjalanan. Kulihat beberapa mahasiswa sedang duduk dan berbincang di teras gedung C. Kuhentikan langkah, mengamati sekeliling. Sepi. Tak kulihat orang-orang yang kukenal. Mungkin teman sekelasku sudah tahu lebih dulu kalau tak ada kuliah saat ini.
Aku tak mungkin pulang ke rumah. Aku harus menunggu dua jam karena masih ada jadwal kuliah. Tapi apa yang harus kulakukan? Sepagi ini ruang baca pasti belum buka. Perpustakaan terlalu jauh untuk ku tempuh. Mungkin aku harus duduk sejenak mengistirahatkan kakiku.
Tiba-tiba seseorang menimpuk tanganku dengan kertas. Kulihat ke belakang Rahma, sahabatku sedang berdiri sambil menebar senyum kuda. Ku julurkan lidah tanda aku tak suka dengan perbuatannya. Lalu dia duduk tepat di sebelahku, mengeluarkan selembar kertas dan menulis sesuatu. Kemudian direntangkan kertas itu di depanku.

AYO KITA KE PERPUS!

Kuanggukkan kepalaku. Rahma memang sosok yang cukup unik, tidak banyak bicara. Jika sedang malas bicara ia hanya menuliskan kalimat yang ingin ia sampaikan pada selembar kertas.
Terkadang ia suka sekali bicara, memberikan teka-teki dan bercerita lucu.
Aku tidak pernah bisa menolak ajakannya. Pernah suatu ketika ia memintaku menemaninya ke ruangan dosen lalu aku menolak. Dia memberiku berbagai pertanyaan, mengapa Rembo bernama rembo, dan masih banyak teka-teki yang membuatku pusing. Semakin aku berusaha menolak semakin sulit teka-teki yang ia buat. Daripada mendengarkan teka-tekinya yang aneh lebih baik aku menuruti keinginannya. Tak ada salahnya, toh dia selalu mengajakku untuk berbuat hal yang benar. Itulah motonya.
Kubangkit dari tempat duduk, berjalan menuju perpustakaan yang jaraknya cukup jauh. Melelahkan memang, dengan beban seberat ini.

“Lewat sini aja biar cepet,” kutarik lengan Rahma.

“Nggak deh, ada portal,” tolaknya mengganti haluan.

Tanpa pikir panjang kulewati besi portal yang melintang 50 cm di atas tanah dengan maksud memotong jalan. Lumayan hemat energi.

Bug. Brek. Tubuhku terhempas. Sepertinya aku tersangkut sesuatu. Rokku robek dan tali sepatuku putus. Untunglah hanya Rahma yang melihat kejadian tragis ini.

“Sangka kamu sudah gaya,” ucap Rahma sedikit tertawa. Ia kemudian membantuku berdiri, membersihkan baju dan tasku dengan tangannya.

“Aku pulang,” pamitku singut.

Tentu saja aku tidak mungkin ikut kuliah dengan keadaan seperti ini.

***

Meskipun sering berbicara di muka umum, aku masih merasakan gugup. Aku adalah orang pertama yang harus menyajikan makalah di depan kelas. Tidak sulit mencari literatur tentang fungsi negara tapi tetap saja aku bingung merangkai kata menjadi kalimat-kalimat efektif.

“Sebagai institusi, dalam menjalankan aktivitasnya, sebagaian besar didanai oleh masyarakat melalui pajak. Itulah salah satu alasan mengapa negara harus memperhatikan dan melayani kepentingan masyarakat,” paparku mengawali presentasi.

Kulanjutkan pemaparanku. Kulihat sekeliling ruangan, tampaknya semua mahasiswa fokus mendengarkan setiap ucapanku. Kemudian mataku tertuju pada seseorang yang begitu serius menyimak setiap perkataanku. Bang Ziko, kakak tingkatku.

“Interupsi. Bukankah setiap kegitan negara disertai dengan kepentingan kelompok penguasa, bagaimana negara melaksanakan fungsinya?” Tanya bang Ziko.

“Ya. Idealnya program yang dilaksanakan harus sejalan antara kepentingan penguasa dan masyarakat. Karena tidak mugkin tidak adanya campur tangan kepentingan penguasa dalam merumuskan kebijakan,” jawabku.

Ia terus menyimak penjelasanku. Mataku masih tertuju padanya. Tiba-tiba kuraskan ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Seketika badanku terasa lemas. Tanganku gemetar. Bibirku kelu. Kualihkan pandanganku. Ada sesuatu yang menancap di hatiku. Sebuah anak panah yang menyebarkan racun cinta semu di tubuhku.

***
Aku jatuh cinta lagi. Aku mulai tak percaya diri dan salah tingkah. Dulu aku tak pernah peduli dengan bentuk tubuh, pakaian atau apa yang dibicarakan orang tentangku. Setelah kejadian itu, aku seolah menjadi orang asing. Aku merasa menjadi orang paling jelek sedunia.

Kucoba beberapa obat pelangsing tapi berat badanku tak kunjung turun. Aku benci diriku. Mengapa aku tercipta sebesar ini. Memang sih tak sebesar bintang iklan sabun pencuci piring atau iklan suplemen tubuh. Tapi aku malu.

“Eh, kemarin ada orang meninggal karena minum obat pelangsing,” cerita Ika serius.

“Seseorang meninggal disebabkan kehendak Allah,” sanggahku.

“Memang sih dia meninggal bukan setelah minum obat pelangsing tapi karena kurang cairan akibat efek samping obat itu dan akhirnya terkena sakit ginjal. Terus meninggal deh,” terangnya dalam satu tarikan nafas.

“Kalau niat menurunkan berat badan dengan cara yang alami dong. Kurangi makan dan olah raga teratur, “ujar Rahma meledekku.

Begitu banyak tips untuk menurunkan berat badan yang kuperoleh dari internet mulai dari mengurangi makanan yang berlemak, lompat tali, banyak makan sayur dan buah, menghindari makanan yang bersoda dan masih banyak lagi. Semua sudah pernah kucoba tapi mana tahan melihat masakan lezat, biar berlemak tetap disikat.

“Kamu kelihatan cantik deh hari ini,” puji Indah

Wah kata-kata itu membuatku terbang melayang, meronakan wajahku, dan mengembangkan hidungku. Baru kali ini ada yang memujiku. Akhirnya ada juga yang menyadari kalau aku ini cantik.

Akhir-akhir ini aku sendiri bingung dengan pandangan teman-teman yang sedikit berbeda. Mungkin penampilanku berubah tapi menurutku biasa-biasa saja. Kalau selama ini wajahku polos, sekarang kuberi sentuhan bedak dan polesan lipglos sedikit.

“Oke perhatian semua, silakan kelompok tiga memaparkan hasil diskusinya,” perintah pak Riki dari arah belakang bangku, di depan pintu.

Giliran kelompokku. Aku ditunjuk teman-teman sekelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kami. Tapi kali ini aku tidak siap. Aku seperti macan yang kehilangan kuku dan taringnya. Apalagi kulihat bang Ziko yang duduk di barisan depan. Aku tak bisa menguasai diri. Pikiranku kacau. Bibirku kelu. Aku hanya berdiri dan teman-teman tampak bingung melihat aksi tutup mulutku.

“Silakan Anda paparkan. Don’t be nervous. Biasa aja geh,” Ucap pak Riki bercanda.
Ruang hatiku dipenuhi gejolak, nafasku sesak. Perasaan dan fikiranku berkecamuk. Aku kemudian duduk. Beruntung, Indah berinisiatif menggantikan posisiku sebagai juru bicara.

***

Sudah hampir satu jam aku keluar masuk kamar, entah sudah berapa kali melihat cermin, membenahi jilbab dan bajuku. Oh tidak. Bedakku ketebalan. Kulihat baju dan rokku sepertinya kurang pas. Tapi sudah tak ada waktu untuk mengganti pakaian. Kuciumi ketiakku. Ah nggak bau. Kuobrak-abrik isi lemari mencari kaos kaki yang serasi dengan warna jilbabku.

“Kak, buruan dong!” Teriak adikku diiringi suara klakson mobil. Ayah pun ikut berteriak menyuruhkui cepat.

Aku berlari dan langsung masuk ke dalam mobil. Duduk di depan di samping ayah. Kupandangi wajahku lewat spion. Lalu kusadari ada yang tertinggal.

“Pa, brosku ketinggalan.”

“Nggak bisa.” Tolak ayah sambil menancap gas tak mempedulikan wajahku yang singut.

Pancaran sinar mentari pagi tak membuatku bersemangat. Sepanjang perjalanan kulipat wajahku. Aku kesal. Kunyalakan radio. Terdengar suara renyah seorang penyiar lalu beberapa orang menelpon meminta nasyid pilihannya diputar. Beberapa saat kemudian mengalun sebuah nasyid yang liriknya mengganggu telingaku.

MENCINTAI BUNGA DIA AKAN LAYU JUA
MENCINTAI HARTA TAKKAN BAHAGIA
MENCINTAI MANUSIA KAN KEMBALI PADA-NYA
CINTA SEJATI ADALAH CINTA ILLAHI

Kumatikan radio. Aku benar-benar terganggu mendengarnya.

***

Ini sudah kesekian kalinya aku lupa membawa atau mengerjakan tugasku. Aku hampir di hukum dosen karena melamun saat kuliah. Aku benar-benar tersiksa. Setiap saat kumengingatnya, terbayang wajahnya. Selalu berusaha untuk bertemu dengannya. Curi-curi pandang saat kuliah berlangsung. Konsentrasiku pun buyar. Perasaan ini tak boleh ku pelihara. Hidupku bakal hancur. Tapi jurus lama tak berpengaruh. Dulu jika cowok yang kutaksir ketahuan keburukannya, otomatis rasa suka itu hilang dan perasaan kembali normal. Tapi untuk kasus kali ini ada dorongan untuk menerima ia apa adanya. Nah lho.

“Ayo dong kamu sadar. Jatuh cinta itu wajar tapi jangan didramatisir. Aku juga pernah jatuh cinta tapi tergantung kita mengendalikan diri dari nafsu. Coba deh lebih banyak berzikir,” ujar Rahma menasehati. Tampaknya ia sudah mulai menyadari ada yang salah dalam diriku.

Aku hanya diam. Aku juga ingin menyudahi perasaan ini. Tapi semakin aku ingin menghindarinya, semakin aku ingin dekat dengannya. Kuakui mungkin selama ini aku sedikit lalai. Jarang memperhatikan rohaniku. Bahkan sekedar untuk mendengarkan tausiahpun aku tak sempat. Aku memang sibuk. Tugas kuliahku menumpuk, kegiatan di beberapa organisasi yang kuikuti cukup menyita waktu ditambah lagi dengan tugas rumah yang tak berkesudahan. Energiku sudah habis untuk bermusahabah sebelum tidur atau bangun tengah malam untuk tahajud.

“Besok ada pengajian. Ikut yuk. Pembicaranya dari Jakarta lho,” ajak Rahma.

“Aku malas”

“Kenapa ayam berkokok sambil menutup matanya?” Rahma mulai beraksi mengeluarkan jurus teka-tekinya. Aku tetap mengunci mulutku.

“Karena sudah hapal. Terus ketika jam berdentang 13 kali menandakan apa?”

“Teka-tekimu payah.”

“Tandanya jam harus segera direparasi. Oke, aku tunggu besok di depan masjid kampus jam 1 siang.” Celotehnya sambil meninggalkanku pergi. Biasanya ia akan terus berteka-teki sampai aku mengatakan iya. Mungkin kali ini dia kehabisan stok teka-teki.

Aku harus mengerjakan tugas. Membaca beberapa buku dan meyelesaikan soal-soal statistik sosial. Kubuka buku catatanku, terselip selembar kertas.

NAFSU MERUPAKAN BUDAK DI HATI, BELENGGU DI LEHER, DAN TALI DI KAKI. MENGIKUTI NAFSU HANYA AKAN MERUNTUHKAN SEMANGAT DAN MENDATANGKAN PENYAKIT. BERLINDUNGLAH KEPADA ALLAH SWT DARI BISIKAN SYETAN DAN HAWA NAFSU SEBELUM TERLAMBAT.

Mungkin benar selama ini aku merelakan diriku dibelenggu nafsu. Aku ingin memandang, membayangkan, dan merasakan hanya karena rasa simpati dan suka. Aku jatuh cinta bukan berdasarkan cinta kepada Allah tapi karena nafsu belaka. Mulai saat ini kuazamkan dalam diriku untuk berusaha lepas dari belenggu nafsu. Semangat!

Kurobek selembar kertas kemudian kutulis sebait pantun.

DARI MANA DATANGNYA CINTA
DARI MATA TURUN KE HATI
DARI MANA DATANGNYA DOSA
DARI HATI YANG DI KOTORI

Kulangkahkan kaki ke luar perpustakaan. Kuhirup udara panas siang hari, menepaki jalan yang sepi. Aku tertegun melihat portal tepat di depanku.
(17042006)
*pernah dibacakan dalam acara Mata Pena, kerjasama FLP Wilayah Lampung dan A Radio 101,1FM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...