Rabu, 20 Agustus 2008

Cincin Pintal Tiga



By: Lilih Muflihah

Ia membenamkan wajahnya di bantal, berulang kali menutup paksa rapat-rapat matanya, ia berusaha keras untuk terlelap tapi kantuk tak kunjung datang. Akhirnya ia hanya membolak-balikkan tubuhnya di kasur. Udara malam terasa begitu dingin hingga serasa menusuk tulang, tak seperti biasanya. Namun ia melepas selimutnya, duduk berselonjor bersandar di sisi ranjang bagian kepala yang dibuat cukup tinggi.

Ia memandangi wajah Risa yang sudah terbuai mimpi di sampingnya. Menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya segera, berulang kali. Menatap wajah Risa lalu memejamkan matanya. Ada rasa sesak terasa karena udara di rongga dadanya terlalu memaksa untuk keluar. Ia memandangi wajah yang manis itu lagi namun kali ini hanya terfokus pada mata Risa yang terpejam.

Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju lemari, membuka laci lemarinya lalu mengambil sebuah kotak perhiasan yang dilapisi kain beludru merah jambu berbentuk hati. Ia memejamkan matanya cukup lama, perutnya terasa sedikit mual. Kemudian ia membuka kotak itu, tampaklah sebuah cincin yang terbuat dari kawat emas yang dipilin.

“Ini hanya sebagai tanda cinta, Kak”. Suara Risa terngiang kembali di telinganya yang semakin membuat perutnya mual dan dadanya sesak bahkan memaksa airmatanya menetes lembut.

Tidak ada yang meragukan keindahan cincin itu jika dikenakan di jari Winta yang lentik dan putih. Ia mengeluarkan cincin pintal tiga itu dan memakainya. Tersenyum di depan cermin seolah ia ingin memamerkan pada cermin betapa cantiknya ia dengan cincin itu. Puas mematung diri di depan cermin, ia pun keluar kamar. Sunyi sepi, nyaris tak ada suara hanya sesekali terdengar dengkuran lembut ayah.

Angin malam berhembus kencang, leluasa masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur yang dibuka Winta. Dua hari lagi Risa akan menikah dan Winta hanya diberi sebuah cincin pintal tiga sebagai pelangkah. Bukannya tak ada gejolak dalam keluarga bahkan nenek Winta sangat tidak setuju jika Risa melangkahi kakaknya karena takut Winta akan jadi perawan tua selamanya. Hampir seluruh sanak saudara dan teman berusaha untuk mengenalkannya pada banyak laki-laki beberapa bulan sebelumnya berharap Winta menyukai salah-satu dari mereka tetapi Winta tak bergeming. Ia sangat rela adiknya menikah lebih dulu tanpa pelangkah apapun, toh urusan jodoh Tuhan yang mengatur. Meski airmatanya enggan menetes, asanya berusaha menepis, dan hatinya sembunyikan rasa, perasaan kalut itu tak bisa terbendung.

Ia duduk di atas rerumputan dengan alas selembar tikar di belakang rumah, layaknya orang piknik. Tak tertinggal sebotol minuman bersoda, sepiring kue coklat, semangkuk puding, dan sekeranjang kecil buah-buahan, lengkap dengan gelas, garpu, sendok bahkan pisau.

Ia memandang langit sambil mengepalkan tangan kirinya, menunjukkan cincinnya pada langit malam dan purnama yang terang.

“Langit, lihatlah cincin ini. Bagus bukan?” ucapnya sedikit berbisik.

Tiba-tiba lehernya seolah tercekak, menghentikan aliran udara nafasnya. Lalu ia pun terisak.

Beberapa saat kemudian ia berusaha menenangkan diri. Menyeka airmatanya dan menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Ia pun kembali menatap langit. Kemudian Winta mengambil seiris kue coklat lalu memakannya lahap sekali, memasukkan beberapa anggur ke dalam mulutnya sampai tersedak, untunglah segelas air soda membantunya. Sepi seolah memprofokasinya. Sudahlah sepi, cinta kan datang suatu hari.

Juli 2008

(Cerita mini ini aku buat terinspirasi setelah membaca suatu majalah. Dalam majalah itu diceritakan suatu kisah nyata seseorang yang dilangkahi adik-adiknya sampai tujuh kali. Cerita ini sebenarnya sangat tidak sempurna karena aku gak bisa membayangkan yang lebih dramatis dari ini dan jangan sampai deh mengalaminya.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...