Kamis, 31 Juli 2008

PENDIDIKAN, ANTARA ADA DAN TIADA

by: Lilih Muflihah

Pendidikan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pendidikan formal yang sepertinya masih menjadi anak tiri di negeri ini padahal pendidikan selalu berkolerasi positif dengan kemajuan. Masyarakat yang bodoh hanya akan melahirkan masyarakat yang miskin dan tertinggal.

Hidup di negeri ini semakin hari semakin sulit. Dari waktu ke waktu semakin banyak orang miskin. Pengangguran pun kian bertambah, bukan karena tidak adanya lowongan pekerjaan melainkan banyak para pelamar yang tidak dapat memenuhi persyaratan keahlian dan pendidikan yang diminta. Namun bangsa ini bukanlah bangsa yang bodoh karena sudah banyak putra-putri bangsa ini yang memenangkan kejuaraan ilmu pengetahuan tingkat internasional dan tidak sedikit anak-anak bangsa ini yang memiliki kecerdasan dan kecakapan luar biasa sehingga mampu bekerja di luar negeri memegang posisi penting di suatu instansi atau perusahaan. Lalu sebenarnya gejala apakah ini? Mengapa hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menikmati manisnya pendidikan? Mengapa mereka yang terbaik dan berkualitas lebih suka mengabdikan diri di negeri orang?

Dulu mungkin kita bisa berbangga karena pemerintah Malaysia mengirimkan beberapa mahasiswa dan dosen untuk belajar di negeri ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan di negeri ini saat itu dianggap lebih baik namun keadaan pun berbalik, dunia pendidikan Malaysia saat ini maju pesat. Kemudian kita hanya bisa menyalahkan sejarah. Status bekas jajahan pun menjadi pembenaran atas kondisi saat ini. Memang benar selama dijajah, bangsa Indonesia dikondisikan sedemikian rupa agar tetap bodoh, ruang gerak untuk mendapatkan pendidikan sangat dibatasi, hanya masyarakat dari kalangan bangsawan yang dapat memperoleh pendidikan dan itu pun untuk dijadikan pesuruh setia yang akan turut melanggengkan penjajahan. Namun saat ini Indonesia sudah merdeka dan sepertinya para pemimpin negeri ini dari dulu hingga sekarang melakukan hal yang tidak jauh berbeda. Mungkin tanpa sadar, melakukan pembodohan masal dengan menerapkan sistem yang buruk dan terus menerus memangkas anggaran pendidikan. Sepertinya pendidikan hanya dipandang sebelah mata agar kekuasaan langgeng. Dengan tidak terdidiknya masyarakat maka ketergantungan akan semakin tinggi sehingga dengan mudah penguasa mengendalikan masyarakat sesuai keinginan mereka.

Pendidikan adalah investasi yang memang tak seperti investasi ekonomi yang hasilnya bisa dirasakan serta merta. Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Karena pendidikan merupakan unsur utama dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan akan memberikan manfaat berupa moral, produktifitas, stabilitas, dan sebagainya. Investasi pendidikan memang tidak akan terlihat dalam jangka waktu pendek namun hasil yang didapatkan jauh lebih besar dibandingkan investasi lainnya, contohnya Malaysia dan Singapura.

Paradigma yang salah selama ini juga membuat pendidikan tak lebih dari hiasan suatu masakan. Sebagian masyarakat menganggap pendidikan adalah prestise. Sekolah hanya untuk mendapatkan gelar yang pada akhirnya akan meningkatkan status sosial dalam masyarakat. Ilmu pengetahuan bukanlah hal yang penting sehingga berbagai cara dilakukan untuk mendapatkannya. Sehingga munculnya jual beli gelar, adanya ijazah asli tapi palsu, dan sebagainya. Dan buruknya mutu pendidikan memang tidak akan sulit membedakan antara orang yang mendapatkan gelar sungguhan dan orang yang mendapat gelar dari hasil membeli. Yang sangat mengenaskan, kebijakan pemerintah tentang standarisasi kelulusan telah membuat masyarakat gelap mata, semua cara dilakukan asal anak-anak atau murid-muridnya lulus ujian termasuk menggunakan cara memberikan jawaban atau membocorkan soal. Kalau sudah begini bagaimana mengukur mutu keberhasilan pendidikan?

Parahnya lagi, Sebagian masyarakat Indonesia ada yang masih menganggap pendidikan merupakan jalan mendapatkan pekerjaan sehingga muncullah anggapan jika orang-orang yang bersekolah saja sulit mendapatkan pekerjaan untuk apa sekolah. Dan tanpa sekolah pun seseorang bisa mendapatkan pekerjaan, jadi untuk apa buang waktu dan biaya.

Sebenarnya wajar saja jika masyarakat menaruh harapan besar untuk mendapatkan imbalan setimpal secara ekonomi, mengingat pendidikan memerlukan pengorbanan dan perjuangan keras. Namun pendidikan tidak sekedar itu, ia merupakan jalan menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi. Sampai kapan kita akan seperti ini, menempatkan pendidikan pada posisi antara ada dan tiada? Padahal dengan kekayaan alam yang melimpah, negeri ini membutuhkan pendidikan untuk mengelolanya. Jika masih tidak ditanggapi serius keadaan ini mingkin kita akan benar-benar menjadi budak di negeri sendiri.
(meski ini bukan bulan Mei)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak.

Memilih Ayam kampung yang Halal dan Baik

Oleh Lilih Muflihah Tabik pun,  Dunia sudah semakin mudah. Dulu bingung jika tidak bisa berkendara, jadi bergantung dengan ora...